Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Eksotisme Hutan Kera Nepa

Madura memiliki banyak surga tersembunyi. Salah satunya adalah destinasi wisata ekologi Hutan Kera Nepa yang berada di jantung pesisir utara Sampang.

Objek wisata ini ada terletak di Desa Batioh, Kec. Banyuates, Sampang. Akses  menuju lokasi ini cukup mudah. Dari pusat kota Sampang, kita menuju arah utara jurusan Sampang-Ketapang-Banyuates yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat sejauh +50 km. Lalu dilanjutkan masuk ke kawasan hutan sejauh 1,5 km.

Menariknya, begitu memasuki kawasan hutan, kita disergap hawa segar sekaligus disuguhi hamparan laut jawa yang biru. Menjadikan kawasan ini spot yang menarik untuk fotografi, baik pada saat matahari terbit (sunrise) maupun pada saat matahari tenggelam (sunset). Setelah menyusuri pesisir pantai melalui fasilitas jogging track yang dibangun Pemerintah Kabupaten Sampang, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Nepa dan menikmati pemandangan hutan mangroove disepanjang sungai. Selain itu, uniknya berbagai macam jenis perahu nelayan setempat disepanjang hilir sungai menjadi pemandangan yang menghadirkan eksotisme sendiri.

“Awalnya saya mengira, Madura ini hanya kegersangan belaka. Eh, ternyata setelah saya ke Gili Labak, ke Bukit Jaddih, dan kini di Hutan Kera Nepa, ternyata Madura ini luar biasa,”ujar Ralline Sophia, wisatawan asal Bandung  yang berkunjung ke Hutan Kera Nepa. Setelah puas berperahu menyusuri sungai, maka perjalanan yang wajib tidak boleh dilewatkan adalah menyusuri kawasan hutan nepa seluas +7 Ha itu. Tentu saja tujuan utama kita adalah melihat uniknya habitat satwa kera yang jinak dan bisa diajak berinteraksi.

                 Menariknya, ada semacam mitos bawah konon di hutan ini terdapat dua kelompok kera yang menempati dua wilayah kekuasaan. Yakni, sisi utara dan sisi selatan yang dibatasi dengan sebuah kayu yang dianggap sebagai tugu perbatasan. Masing-masing kelompok kera tidak akan mau melewati batas territorial ini kecuali ada kera yang sakit atau membutuhkan pertolongan untuk melahirkan. Konon mitos yang ada dari masyarakat, hutan ini merupakan tempat berpijaknya manusia pertama kali yang membabat alas pulau Madura bernama Raden Segoro, dan kera kera tersebut merupakan prajurit dari Raden Segoro yang telah dikutuk menjadi kera karena melanggar larangan dari tuannya. Petilasannya dapat di temukan di jantung hutan ini. Yakni sebuah pohon yang banyak ditempeli bendera oleh masyarakat. Menurut masyarakat setempat, pohon tersebuat merupakan petilasan Raden Segoro. Banyak masyarakat yang melakukan nadzar, dan setelah keinginanya terkabul mereka kembali untuk mengadakan selamatan dan kembali bertawasul ke petilasan Raden Segoro dan meninggalkan kain perlambang hajat mereka telah dikabulkan. Di kawasan ini juga sering dilaksanakan kegiatan rokat bumi atau ruwatan bumi setiap tahunnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah YME atas kemakmuran yang dianugerahkan. Rokat bumi biasanya diadakan disekitar petilasan Raden segoro serta pendopo rokatan yang telah difasilitasi oleh Pemkab Sampang untuk membangkitkan masyarakat sekitar melestarikan kebudayaan asli nepa. Dan, harus diakui, eksotisme Hutan Kera Nepa, sulit terbantahnya. (nin)

Read 156 times Last modified on Senin, 17 April 2017 08:00
rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website: www.bpws.go.id
Login to post comments