Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Berangkat Modal Nekad, Kini Buka Konveksi

Amiruddin dan Junaidi, dua pengusaha muda yang lahir dari workshop pembuatan pin dan kaos dalam kegiatan intensifikasi komunikasi masyarakat yang digelar BPWS tahun lalu Amiruddin dan Junaidi, dua pengusaha muda yang lahir dari workshop pembuatan pin dan kaos dalam kegiatan intensifikasi komunikasi masyarakat yang digelar BPWS tahun lalu Amiruddin dan Junaidi, dua pengusaha muda yang lahir dari workshop pembuatan pin dan kaos dalam kegiatan intensifikasi komunikasi masyarakat yang digelar BPWS tahun lalu

Pertengahan 2013 silam, mungkin menjadi titik tolak yang krusial bagi Amiruddin (27) dan temannya, Junaidi (26). Usai menjadi peserta pelatihan yang dilakukan BPWS, mereka kini membuka usaha bidang konveksi. Keduanya adalah sebagian kecil dari mereka yang berhasil mandiri dalam program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan BPWS. Amiruddin merupakan satu dari sekian kisah sukses dari ratusan peserta pelatihan yang telah berhasil mendirikan usaha sendiri di Madura. Hal ini menunjukkan pelatihan pemberdayaan yang dilakukan BPWS di Madura, menunjukkan hasil positif. Dimana mereka yang telah dilatih, telah terserap oleh dunia kerja dan sebagian membuka usaha mandiri, seperti yang dilakukan Amiruddin. Awalnya, pria sederhana lulusan SMA ini hanyalah pemuda pengangguran di desanya. “Yaaah, kerja apa saja,” ujar pemuda asal Ketapang, Sampang ini mengisahkan.

Suatu ketika ia mendengar dari temannya ada kegiatan intensifikasi komunikasi yang diisi dengan pelatihan berbasis digital printing dan cetakan yakni pembuatan sablon kaos dan mug. Ia melihat peluang dimana saat ini di Madura, usaha konveksi masih sangat minim.“Saya lalu cari informasinya ke BPWS langsung dan mendaftar untuk ikut. Alhamdulillah, sudah dikasih ilmu gratis masih dikasih uang saku,” ujarnya polos. Dalam pelatihan tersebut, ia mengaku termotivasi. Apalagi pelatihnya memompa motivasi peserta dengan menceritakan riwayat usahanya yang dimulai dari minus. “Bukan dari nol lagi, tetapi dari minus. Kalau orang lain bisa, kita pasti bisa,” ujarnya. Usai pelatihan, ia bersama Junaidi asal Pamekasan, langsung merancang rencana usaha. Bahkan, dengan modal nekad, dia bersama tiga temannya berangkat ke Jogjakarta degan naik sepeda motor untuk berguru langsung ke pelatih di workhshop milik Hartoro di Monster Digital Art Jogjakarta. “Kami difasilitasi Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat BPWS untuk berangkat ke Jogjakarta. Sebulan belajar di Jogja gratis, sama pemilik Monster Art ndak boleh bayar. Modal nekad, pulang bikin usaha, hahahaha,” ujarnya. Bersama temannya, Junaidi, ia kini mendirikan usaha konveksi dan cetakan di Sampang. Meskipun mengaku belum besar, namun ia yakin prospeknya sangat bagus di Madura. “Usaha konveksi dan cetakan berbasis digital printing masih jarang di Madura. Saat ini kami masih merangkak, namun progresnya positif. Kami berharap, ada bantuan pemerintah. Entah dalam permodalan, misalnya kredit lunak,” ujarnya. Senada dengan Amir, peserta pelatihan asal Bangkalan, Khoirul Anam dan Djunaidi mengambil langkah yang sama. Khoirul yang saat itu turut serta bersama Amir berguru ke Madura, kini juga membuka usaha sejenis di Bangkalan. “Kami berterimakasih telah dilatih BPWS.

Dengan demikian, ini menjadi salah satu upaya untuk menggerus pengangguran,” ujar mahasiswa PTN di Bangkalan, Madura ini. Sementara itu, Djunaidi Ahmad (25) peserta pelatihan yang lain kini telah mendirikan Ianah Digital Collection yang bergerak dalam bidang usaha cetakan berbasis digital printing. “Yaaah, seperti pelatihan yang dilakukan BWPS kemarin. Kami buka usaha di bidang printing, seperti pembuatan mug, pin, ID Card, souvenir cetak, resin dan lain sebagainya yang berbasis pada cetakan,” ujarnya. Djunaidi bertekad, dirinya akan melebarkan ranah usahanya ke sejumlah bidang yang berbasis cetakan. Ia mengaku, banyak mendapat manfaat dari pelatihan yang digelar BPWS. Untuk itu, pihaknya mendukung penuh langkah BPWS dalam membangun Sumber daya Manusia Madura (SDM).“Makanya, saya selalu ikut program pelatihan pemberdayaan masyarakat yang digelar BPWS. Sebab, itu merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu dan kualitas diri,” tandasnya. (*)Tadjus Subki : Sebab Madura Bisa! Menyikapi hasil dari kegiatan peningkatan SDM Madura, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat (HKKM) BPWS, Drs Tadjus Subki MM mengatakan, sebenarnya sangat banyak peserta pelatihan yang telah mandiri dan terserap oleh dunia kerja. Hal itu menunjukkan BPWS tidak hanya diam, melainkan terus melakukan langkah pro aktif untuk memajukan Madura. “BPWS telah malatih lebih dari 6000 masyarakat Madura dalam peningkatan kualitas SDM. Baik di bidang kemasan, makanan, handycraft, digital printing, konveksi, seervis motor, teknisi IT dan komputer dan banyak lagi. Dari angka itu, mayoritas dari mereka telah terserap pasar dan sebagian lagi membuka usaha mandiri,” tandasnya. Untuk itu, lanjutnya, BPWS akan terus melakukan terobosan-terobasan dan langkah yang tepat dalam meningkatkan kualitas SDM Madura.“Sebab, itu menjadi amanat yang diemban BPWS,” tandasnya. Menurutnya, pihaknya yakin jika SDM Madura bisa memiliki daya saing. Sebab, potensi SDM nyas endiri sebenarnya mudah dibina dan memiliki karakter pekerja keras. Hal ini menjadi modal dominan yang mutlak diperlukan. “Yang diperlukan adalah SDM tersebut terus diasah dan dibina. BPWS yakin SDM Madura mampu memiliki day a saing. Sebab, Madura Bisa,”tegasnya.(coy)

Read 11387 times Last modified on Sabtu, 21 Mei 2016 03:03
rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website: www.bpws.go.id
Login to post comments