Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Komitmen BPWS dalam pengembangan industri di Madura yang sesuai dengan kultur dan berbasis potensi lokal, mendapat dukungan banyak pihak. Langkah ini diharapkan akan mengoptimalkan sumber daya manusia lokal dan entitas seperti perguruan tinggi yang semakin maju di Madura.

Pakar Statistik ITS yang sekaligus Enciety Bussines Consult, Kresnayana Yahya, mengatakan, dalam menapaki era industri,  Madura memiliki karakteristik kultur yang berbeda dan perlu ada treatment khusus.

“Madura tidak bisa dikembangkan dengan mencontoh Batam karena karakteristik wilayah, tantangan dan kulturnya sangat berbeda. Harus berbasis pada potensi lokal,” ujarnya.

Kresnayana menceritakan,  awalnya Batam adalah pulau yang nyaris tanpa penghuni. Akses menuju ke pulau ini pun masih sulit karena belum ada pelabuhan laut atau bandara sehingga harus ke Singapura terlebih dahulu sebelum masuk ke Batam.  Batam sebelum berkembang maju seperti sekarang juga melewati berbagai hambatan dan tantangan yang tidak ringan.

“Terlepas dari ekses-ekses negatif akibat pengembangan industrialisasi di Batam, secara umum kini Batam telah memberikan sumbangsih kepada pembangunan ekonomi lokal, regional maupun nasional. Nah, untuk Madura, mumpung belum terlanjur, perlu penanganan serius dan industrialisasi disesuaikan engan konteks kulturnya,” ujar pendiri fakultas statistika ITS ini.

Sementara, Kepala Divisi Data dan Info BPWS, Pandit Indrawan  mengemukakan, pola industrialisasi Batam tidak akan di-copy paste ke Madura. Pengembangan industri di Madura bertumpu pada potensi lokal berupa sumber daya alam unggulan dan potensi sumber daya manusia kreatif di 22 klaster ekonomi unggulan yang tersebar di Pulau Madura.  Ia menuturkan industrialisasi di Madura harus integratif, baik pengembangan fisik  industri maupun SDM-nya.

“Terlepas dari rata-rata tingkat pendidikan, SDM Madura sebenarnya unggul dari aspek kreativitas. Sebagai perantau rata-rata Orang Madura sukses menjadi pionir atau pelaku ekonomi,” ujarnya.

Ditambahkannya, menuturkan untuk pengembangan industri di Madura perlu dipersiapkan secara matang. Pandit berpendapat potensi pengembangan industri di Madura sangat besar, namun bila tidak dibarengi dengan langkah-langkah konstruktif masyarakat Madura untuk mempersiapkan diri untuk bersaing dengan daerah lain, maka sulit untuk menarik minat investor untuk mengembangkan industri di Madura. (coy)

Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) membuka pintu selebar-lebarnya kepada semua elemen untuk turut serta dalam pengembangan madura ke depan. Tak terkecuali dengan Himpunan Santri Madura (Hisma) yang mengunjungi BPWS dalam rangka hearing sekaligus urun rembug tentang langkah pembangunan ke depan.

Ditemui Kepala Divisi Data dan Informasi, Pandit Indrawan dan Humas BPWS, Faisal yasir Arifin, KH Fathurrozi Zubair selaku ketua umum Hisma mengemukakan sejumlah persoalan yang bisa menjadi acuan agar pembangunan di madura bisa memanusiakan rakyatnya.

“Eksistensi BPWS jelas suatu keberkahan jika disertai dengan niat untuk bersama mengembangkan madura menuju kemaslahatan rakyatnya. Untuk itu, kami ke sini mencoba berdialog dan membangun komunikasi agar sejumlah persoalan elementer di Madura, menjadi perhatian BPWS dalam mengembangkan Madura,” ujar putra kyai berpengaruh di Madura ini.

Didampingi Sekjen Hisma, Nurcholis, KH Rozzi, demikian ia karab disapa, mengungkapkan perlunya ada solusi persoalan sosial, menekan disparitas ekonomi yang berbasis kerakyatan, dan penguatan keagamaan di madura agar pembangunan bisa dirasakan hingga elemen masyarakat paling bawah.

“Dan yang lebih penting lagi, jangan sampai pembangunan menjadikan masyarakatnya tersisih. Kami yakin, BPWS memiliki grand design yang konstruktif untuk pengembangan masyarakat ini,” tandasnya.

Pandit Indrawan, dalam kesempatan itu memastikan, BWPS dalam membangun Madura selalu dilandaskan pada kepentingan yang berbasis masyarakat. Selain membangun infrastruktur, BPWS juga melakukan penguatan bidang SDM agar masyarakat Madura tidak menjadi penonton di negerinya sendiri.

“Kami berterimakasih terhadap masukan dari Hisma ini. Tentu ini masukan yang luar biasa dan akan menjadi acuan kami dalam melangkah ke depan. Apalagi entitas pesantren dan santri menjadi elemen penting dalam pembangunan  di Madura,” tandasnya. (coy)

 

 

Rapat yang diselenggarakan di ruang Mustazir kantor Bapel-BPWS pada hari Jum’at (25 Nov’16) merupakan rapat tindaklanjut pasca diserahkannya dokumen Masterplan Kawasan Minapolitan Rumput Laut Saronggi kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep, dan selanjutnya perlu dilakukan sinergitas dukungan program dengan Kementerian/Lembaga terkait untuk mendukung program percepatan pembangunan di kawasan tersebut. 

Rapat dibuka dan dipimpin langsung oleh Herman Hidayat selaku Plt. Kepala Bapel-BPWS, dan dihadiri Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (KKP) Kabupaten Sumenep, Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo, National Chief Technical Advisor/NTCA (UNIDO), Bakorwil Pamekasan, Bappeda Propinsi Jawa Timur, Kasatker Randal Propinsi Jawa-Timur, Dinas Cipta Karya Propinsi Jawa Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa-Timur, Bappeda Kabupaten se Madura, Dinas KKP Kabupaten se Madura, Up.Setwanrah BPWS serta para Kepala Divisi di lingkungan Bapel-BPWS.

Di awal paparan Agus Wahyudi selaku Deputi Perencanaan Bapel-BPWS menyampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu  penghasil rumput laut  terbesar di dunia. Berdasarkan data dari FAO (Maret 2015), produksi rumput laut jenis “cottonii”  dari Indonesia menempati urutan pertama dunia yaitu sebesar 8.3 juta ton. Dan Indonesia juga menjadi pemasok utama rumput laut dunia dengan pangsa pasar 26.50 % dari total USD 1,09 miliar permintaan dunia.

Sementara Mohammad Jakfar selaku Kepala Dinas KKP Kabupaten Sumenep menyoroti soal masih adanya kendala terkait pengembangan rumput laut di Kabupaten Sumenep, diantaranya terletak pada permasalahan ketersediaan bibit bermutu, dimana saat ini mulai terjadi degradasi kualitas bibit pada beberapa kawasan budidaya, penerapan teknologi yang belum sepenuhnya menerapkan terwujudnya  quality assurance, food safety, dan traceability sehingga kualitas rumput laut masih rendah.

Lebih lanjut Mohammad Jakfar mengatakan bahwa pada beberapa daerah, budidaya  rumput laut tidak bisa dilakukan sepanjang tahun, hal ini secara umum masih dipengaruhi oleh musim yang tidak menentu serta belum dikuasainya tehnik identifikasi dini mengenai serangan penyakit dan cara mengatasi penyakit rumput laut.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo Ujang Komarudin mengatakan bahwa bibit rumput laut yang memiliki kualitas sedikit lebih unggul adalah “bibit kultur jaringan”, dimana bibit kultur jaringan tersebut dapat dijadikan alternatif untuk budidaya rumput laut karena karena memiliki beberapa keunggulan, diantaranya laju pertumbuhan lebih yang lebih cepat, kandungan karegenan yang lebih tinggi, serta memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap perubahan cuaca dan lingkungan.

Ujang Komarudin juga mengemukakan terkait beberapa peluang yang dapat dikerjasamakan di tahun 2017, diantaranya bantuan benih untuk induk udang vaname, benih udang vaname, benih bandeng, serta benih kerapu yang akan didistribusikan di beberapa wilayah termasuk ke Kabupeten Sumenep dan Pamekasan.

Adapun Sudari Pawiro dari SMART-Fish Indonesia (UNIDO) menyampaikan terkait progress program smart-fish yang saat ini sedang berjalan. Program tersebut merupakan program nasional yang sudah berjalan hampir 1 tahun di Kabupaten Sumenep, yang mana fokus dari program smart fish tersebut adalah untuk membantu meningkatkan daya saing yang kompetitif terkait industri rumput laut dalam negeri supaya dapat bersaing di level internasional.

 

Sedangkan harapan dan upaya untuk pengembangan rantai nilai rumput laut di Kabupaten Sumenep diantaranya, perlunya revitalisasi bangunan cluster pengolahan RC/SRC rumput laut, pengembangan end-product dalam rangka untuk memotong rantai pemasaran rumput laut, fasilitasi bantuan bibit rumput laut yang berkualitas, fasilitasi pemasaran rumput laut serta bantuan pasca panen yaitu untuk pembuatan para-para.(Gun)

Setelah sebelumnya Jepang, Korea Selatan dan China tertarik berinvestasi di Madura, kini giliran Amerika Serikat melirik Madura. Tak tanggung tanggung, dua pejabat Konsulat Jenderal (konjen) AS, yakni  Counselor for Economic Affairs, Jim Mullinax ditemani  pejabat bagian ekonomi politik Jett Thomason mengunjungi BPWS untuk mengetahui informasi konstruktif dalam pengembangan Madura.

Ditemui langsung oleh Plt. Kepala BPWS Herman Hidayat dan jajaran pejabat serta Kepala Sarana dan Prasarana Wilayah Bappeda Prop. Jatim Budi Yunarto, dua pejabat konjen AS ini mengakui jika potensi Madura sangat besar. Menurutnya, investor yang berminat menanamkan modal di Indonesia, saat ini banyak investor di Amerika yang sudah melirik luar Jakarta dan sekitarnya.

“Beberapa waktu lalu, pernah datang juga ke Surabaya. Termasuk ke Madura melihat potensi yang ada. Kami menilai, peran BPWS dan pemerintah (daerah) dalam pembangunan Madura cukup besar,”tandasnya.

Dikatakannya, Madura memiliki potensi  agrikultur, industri dan pariwisata yang besar. Pertanian Madura sangat potensial untuk dikembangkan secara berkesinambungan dengan hasil-hasil yang memiliki daya saing. Begitu juga sektor peternakan, dimana sapi Madura dikenal dengan kualitas dagingnya yang lezat.  Selain itu, kawasan Madura juga  sangat layak sebagai sentra industri.

“Juga wisata berbasis agama (syariah, Red) di Madura memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk dikembangkan. Namun, beragam peluang ini belum dimaksimalkan,”ujar Jim Mullinax.

Lebih lanjut ia menambahkan, potensi ini semakin bisa dimaksimalkan jika pendidikan di Madura menjadi prioritas.

“Kami sangat peduli terhadap pendidikan ini. Makanya, kami juga memiliki program USAID untuk meningkatkan kapasitas pendidikan. Namun memang sekarang kami prioritaskan di Indonesia bagian timur, seperti Papua, NTT dan lain sebagainya,”tandasnya”.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala BPWS Herman Hidayat menegaskan, Madura dengan potensinya yang luar biasa tersebut, memang menjadi daya Tarik bagi investor. Bahkan ia mengaku jika sejumlah investor dari Korea Selatan, Jepang dan China, dengan difasilitasi BPWS  beberapa waktu lalu tertarik menanamkan investasi di Madura.

“Tentu akan kami komunikasikan dengan pemerintah daerah sebagai pemilik otoritas. Yang jelas, investasi yang masuk semestinya memanusiakan dan menyejahterakan masyarakat Madura,” ujarnya.

Dalam paparannya, ia menjelaskan, BPWS berencana membangun pelabuhan di Tanjung Buluh Pandan atau sisi utara Madura. Pelabuhan ini menjadi solusi terkait overload nya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Dengan kedalaman minimal 15 meter tanpa sedimentasi dan menghadap laut lepas, tentu ini menjadi nilai lebih yang strategis. Ini akan didukung dengan infrastruktur yang salah satunya jalan tol yang akan menghubungkan pelabuhan dengan tol Surabaya,” ujarnya.

Terkait rencana itu, Jim Mullinax mengapresiasi. Menurutnya, infrastruktur memang mutlak diperlukan guna mendukung  lancarnya arus investasi. (coy)

Kultur agamis Madura dan potensi alam Madura dalam bidang wisata, menjadi perhatian Amerika Serikat (AS). Ini terungkap dalam kunjungan Konsulat Jenderal (Konjen) AS  ke Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), Selasa (29/11).

Counselor for Economic Affairs USA di Indonesia, Jim Mullinax mengatakan, kultur budaya yang agamis di Madura merupakan daya tarik luar biasa bagi  wisatawan. Jika itu mampu dikemas dengan baik, maka akan mendatangkan peningkatan perekonomian Madura.

“Bagi kami (orang luar negeri), kultur madura sangat menarik. Bull race (karapan sapi), ritual keagamaan dan kultur bersahabat Madura menjadi daya tarik yang indah, itu bisa dikelola untuk wisata agama (syariah),” tandasnya.

Untuk itu, jika diperlukan, pihaknya siap membantu dalam beberapa langkah yang bisa dikomunikasikan ke depannya dengan lebih baik.

“Hanya saja harus diakui, potensi-potensi ini belum dimaksimalkan. Perlu dukungan semua pihak agar potensi ini bisa dimaksimal dan berguna (bagi masyarakat Madura),” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar ini.

Menanggapi hal ini, Plt. Kepala BPWS Herman Hidayat mengakui bahwa potensi wisata syariah merupakan potensi besar bagi Madura.

“Untuk itu, kami juga memiliki concern pada ranah ini. Makanya, dalam pelatihan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) kami melatih bidang kepariwisataan. Selain itu, juga kita selalu dorong melalui promosi berkesinambungan tentang potensi wisata Madura ini, termasuk dalam ranah wisata syariah,” tandasnya. (coy)

Salah satu harta karun Madura adalah kejayaannya dalam bidang ramuan obat tradisional. Namun, belakangan ini pijarnya agak meredup seiring semakin minimnya generasi muda Madura yang menekuni bidang tanaman obat tradisional ini. Selain itu, penetrasi kapitalisasi pabrikan juga meminggirkan peran para perajinnya di Madura.

BPWS bekerjasama dengan empat  kabupaten di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, menggandeng UPT Pelatihan Kerja Materia Medica Batu, melatih tunas tunas muda potensial dalam bidang pelatihan industri pengembangan dan pemanfaatan tanaman obat berbasis kompeensi pada 2016.

"Tujannya agar meningkatkan kemampuan perekonomian Madura, mengembalikan kejayaan Madura dalam bidang tanaman tradisional yang aman, bermutu dan berdaya saing," ujar Kepala Divisi Pengendalian Pembangunan BPWS, Moch Anwar dalam acara penutupan pelatihan di UPT Meditera Medica Batu, Rabu (2/10).

Para muda mudi yang berjumlah 24 orang ini dilatih selama 17 hari yang dibiayai penuh oleh BPWS. Mereka dibekali teknik budi daya tanaman obat, pembuatan simplisia (bahan baku, Red),  pengolahan, pembuatan ekstrak, peracikan, pengemasan, pemilihan bahan bermutu, keilmuan farmasi dan lain sebagainya.

"Sehingga, ketika lulus dari sini, mereka sudah siap bertarung dengan keilmuan yang mumpuni dan memiliki sertifikat berstandar nasional," ujar Kasubag TU Materia Medica Batu,Unik Purwaningtyas mewakili Kepala UPT Materia Medika Batu, Dr. Husin Rayesh Mallaleng.

Pelatihan ini sendiri sudah berlangsung dua kali. Sebelumnya pada 2015 juga dilatih 24 siswa siswi yang berasal dari empat kabupaten di Madura.

Terpisah,  Plt Kepala BPWS, Herman Hidayat dalam statemennya menyampaikan pesan agar muda-mudi ini segera mempraktikan apa yang telah diajarkan di UPT Materia Medica selama pelatihan. Menurut purnawirawan jenderal bintang dua ini, para siswa yang sudah lulus memuaskan tersebut dapat membawa misi untuk mengembalikan kejayaan Madura.

"Kembalikan kejayaan Madura dalam bidang obat tradisional. Jamu Madura dulu pernah berkibar dan jadi salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang andal, nah kejayaan itu harus dikembalikan," tegas putra asli Sumenep Madura ini.

Salah satu siswa, Quratul 'Aini mengaku terbakar semangatnya dengan pesan yang disampaikan pimpinan BPWS tersebut.

 "Ya, kami memang berkomitmen agar pelatihan ini tidak menghasilkan ilmu yang sia-sia, harus segera kami aplikasikan saat kami pulang ke Madura. Insya Allah, bisaaaaaaa," tegasnya (coy)