Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Bertempat di Hotel Camplong Sampang, 18 Agustus 2016. BPWS mengadakan kegiatan Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Desa Wisata di Madura Kabupaten Sampang, BPWS dalam hal ini bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sampang. Acara ini dihadiri oleh Bupati Sampang Fannan Hasib, Plt Kepala Divisi Hubungan Komunitas dan Kelembagaan Masyarakat Djoko Triyono, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sampang Djuwardi serta Peserta berjumlah 40 orang berasal dari seluruh kecamatan di Kabupaten Sampang.

Acara diawali dengan laporan dari Kepala Sub Divisi Pemberdayaan Abu Tholib, Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan Perpres No. 27 Tahun 2008 tentang BPWS pasal 12 fasilitasi dan stimulasi dan MoU antara BPWS dengan Pemerintah Kabupaten Sampang. Adapun maksud diadakannya kegiatan ini adalah terwujudnya pemberdayaan masyarakat khususnya dalam pengelolaan desa wisata di Kabupaten Sampang.

Plt, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat Djoko Triyono, dalam sambutannya bahwa diharapkan dengan adanya kegiatan pelatihan ini potensi wisata yang ada di desa masing-masing dapat dikelola dengan baik sehingga bisa meningkatkan perekonomian di desa yang terdapat potensi wisatannya tersebut.

Selanjutnya Bupati Sampang Fannan Hasib dalam sambutannya, menyambut baik dan gembira atas kegiatan ini, karena dengan adanya kegiatan ini para peserta diharapkan bisa meningkatkan pola pikirnya, untuk lebih kreatif dan terampil dalam hal mengelola wisata yang ada di desa Kabupaten Sampang dan sekaligus membuka acara ini. (Nin)

Bappeda Provinsi Jawa Timur dalam Seminar Nasional Desa Wisata dan Ekowisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, yang diselenggarakan di Hotel Utami Sumekar tanggal 29 s/d 30 Agustus 2014 mengundang BPWS bersama perangkat Pemerintah Kabupaten Sumenep. Narasumber dalam seminar tersebut berasal dari Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Koperaasi dan UMKM.

Peserta yang hadir adalah para Camat dan Kepala Desa se Kabupaten Sumenep dan beberapa pajabat dari dinas/lembaga Pemerintah Kabupaten lain di Jawa Timur, diantaranya Bondowoso, Trenggalek, dan Tulungagung. BPWS dihadiri oleh Kepala Sub Div Perencanaan Hadi Susanto ST dan Kepala Sub Divisi Pengadaan Tanah Eddi Harlijadi, SE.MM. serta beberapa staf lain.

Seminar Nasional itu cukup penting bagi BPWS, mengingat peran badan ini di Madura sangat strategis dalam rangka mengembangkan Pulau Garam kedepan, khususnya sektor Pariwisatanya. Beberapa Kawasan sangat berkaitan dengan pengembangan kawasan wisata pesisir dan kepulauan.

Keikutsertaan BPWS dalam seminar itu tentunya dapat menambah pengalaman serta memperoleh materi kebijakan pemerintah tentang kepariwisataan nasional. Badan ini masih memerlukan peran serta pihak lain atau stakeholder guna memperkaya khasanah data dan informasi wisata serta pengelolaannya, agar dalam penetapan program – programnya dapat berdampak langsung kepada kualitas destinasi wisata di Madura dan sekitarnya.

Pengembangan kepariwisataan nasional hendaknya dapat berjalan secara paralel dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Destinasi wisata dapat tumbuh dan berkembang dengan adanya partisipasi masyarakat lokal. Tanpa kiprah masyarakat dan usaha – usaha pemberdayaan potensi eks local, maka kecil kemungkinan destinasi wisata dapat menimbulkan daya tarik bagi wisatawan.

Materi yang disampaikan oleh Pejabat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Drs Sarman Pamungkas merupakan landasan bagi pengembangan pariwisata nasional. Pembangunan Kepriwisataan Nasional harus berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS) PP Nomor 50 tahun 2011 yang harus menjadi acuan bagi setiap pihak yang bergiat dalam kegiatan kepariwisataan. Sehingga dengan landasan itu, maka setiap aktivitas kepariwisataan mendapat aksesibilitas yang lebih mudah dan masyarakat dapat berperan aktif memberikan layanan terbaik, atraktif, dan kreatifitas yang bermutu tinggi.

Selain itu, Ir Hardian Harmaini ,MT dari Ditjen Tata Ruang Kementerian PU dalam penyampaian materinya menjelaskan bahwa, pengembangan kawasan pariwisata harus berlandaskan perencanaan tata ruang wilayah, baik itu Nasional, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota. Sebab, Tata ruang yang menjadi pedoman itu menjamin integrasi pembangunan lintas sektoral, baik oleh pemerintah maupun oleh swasta.
Kawasan wisata dapat berkembang jika didukung oleh infrastruktur yang memadai dan berfungsi optimal. Misalnya, jalan, jembatan, telekomunikasi, air bersih, kelistrikan, angkutan terpadu, serta sarana prasarana lainnya. Tanpa dukungan infrastruktur di atas, besar kemungkinan kegiatan pariwisata akan mengalami degradasi sebagai destinasi wisata, kata Herdian. Ditambahkan bahwa, infrastruktur jalan dan jembatan di Madura relatif cukup baik dan ini sangat menunjang, kata dia .

Berbicara keterlibatan masyarakat dalam industri kepariwisataan bagaikan ikan dan air. Potensi wisata harus dikelola oleh tangan2 kreatif dan menjamin adanya pelestarian potensi yang didalamnya terdapat budaya tradisional dan keunikan lokali. Termasuk pelestarian alam dalam rangka harmonisasi antar alam dengan manusianya. Sebab, belakangan ini kontrol terhadap aktivitas masyarakat yang cenderung tidak mendukung potensi wisata makin berkurang atau bahkan terjadi perusakan lingkungan.

Pariwisata bukanlah sektor yang berdiri sendiri secara eksklusif. Tetapi sektor ini memiliki mata rantai yang saling keterkaitan dengan sektor lainnya, seperti sektor ekonomi di masyarakat, khususnya dalam bidang usaha yang mampu membangkitkan multiplier effect bagi masyarakat, kata pejabat dari Kementerian Koperasi dan UMKM. Banyak desa yang berkembang menjadi destinasi wisata karena toleransi masyarakatnya terhadap kepariwisataan disuguhkan secara komprehensif, misalnya mendirikan usaha penginapan, penyewaan kendaraan, pagelaran seni budaya, serta kuliner dsb.

Terhadap kegiatan usaha masyarakat seperti itu, Koperasi sangat mendukung dan memberi dorongan agar keterpaduan antara wisata dan perekonomian berjalan seiring dan terus dapat ditingkatkan, kata Drs Sjafrial pejabat dari Kementerian Koperasi dan UMKM.

Seminar di Sumenep tersebut secara kebetulan berkaitan dengan pengembangan wisata di Kabupaten yang memiliki Kraton satu - satunya di Jawa Timur dan beberapa obyek wisata kepulauan serta pesona pesisir pantai. Peserta seminar secara tidak langsung merasa terlibat dalam program pengembangan wisata melalui cluster2 di wilayah ini. Salah satunya adalah pengembangan infrastruktur di Pulau Gili Iyang sebagai Ikon Wisata baru untuk wisata kesehatan. Sayangnya, BPWS tidak turut sebagai narasumber. Namun dapat tetap mendukung program pariwisata nasional tersebut utamanya yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan dan permberdayaan masyarakat Madura (EH).

Berdayakan Pelaku Wisata

Sampang –Setelah sebelumnya pemuda dan pemudi di tiga kabupaten di Madura, yakni Sumenep, Pamekasan dan Sampang, BPWS kembali melatih pemuda pemudi Bangkalan dalam bidang pariwisata. Ini merupakan rangkaian dari pelatihan pengembangan wisata dengan menyasar para pelaku wisata di Madura. Pelatihan itu sendiri digelar sehari menjelang puasa di Sampang, 27 – 28 Juni. Kegiatan ini merupakan upaya BPWS

Seperti tahun sebelumnya, rangkaian pelaksanaan kegiatan Intensifikasi Komunikasi Masyarakat tahun 2014 ini juga diisi dengan sejumlah konten kegiatan yang bersifat populis. Jika tahun sebelumnya diisi dengan workshop pelatihan pembuatan sablon dan pin, maka pada tahun ini diisi dengan workshop pembuatan ID Card dan Mug.
Kepala Hubungan

Pertengahan 2013 silam, mungkin menjadi titik tolak yang krusial bagi Amiruddin (27) dan temannya, Junaidi (26). Usai menjadi peserta pelatihan yang dilakukan BPWS, mereka kini membuka usaha bidang konveksi. Keduanya adalah sebagian kecil dari mereka yang berhasil mandiri dalam program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan BPWS. Amiruddin merupakan satu dari sekian kisah sukses dari ratusan peserta pelatihan yang telah berhasil mendirikan usaha sendiri di Madura. Hal ini menunjukkan pelatihan pemberdayaan yang dilakukan BPWS di Madura, menunjukkan hasil positif. Dimana mereka yang telah dilatih, telah terserap oleh dunia kerja dan sebagian membuka usaha mandiri, seperti yang dilakukan Amiruddin. Awalnya, pria sederhana lulusan SMA ini hanyalah pemuda pengangguran di desanya. “Yaaah, kerja apa saja,” ujar pemuda asal Ketapang, Sampang ini mengisahkan.

Sampang – Setelah melatih pelaku pariwisata di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, BPWS kembali mengadakan pelatihan untuk masyarakat Kabupaten Sampang menjadi pelaku pariwisata Pada Jum’at (13-14/06/2014). Pelatihan diselenggarakan di Hotel Camplong, merupakan rangkaian dari program pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata Madura. Pelatihan ini melibatkan 26 peserta yang berasal dari perwakilan kacong cebbing, organisasi pemuda, petugas objek wisata, pelaku usaha pariwisata, dan dinas pariwisata Kabupaten Sampang.