Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean
Upaya menciptakan area bebas ranjau di trase jembatan Suramadu

Ada sisi lain dari proses pembangunan Jembatan Suramadu. Berdasarkan atas Peta Pelayaran Internasional yang dilakukan oleh Dinas Hidrografi TNI-AL, diketahui di area trase pembangunan Jembatan Suramadu terdapat sejumlah ranjau laut. Ranjau yang ada di Selat Madura ini merupakan peninggalan Perang Dunia II yang disebar oleh sekutu di bagian utara Lamongan dan Tuban.

 

Sebenarnya sistem pemicu ranjau ini 90 persen sudah tidak berfungsi. Namum bahan isian pokok (bahan peledak isian/ TNT) masih sangat berbahaya karena bahan peledak stabil yang tidak rusak oleh waktu dan pengaruh lingkungan setempat. Tentu saja hal ini masih sangat membahayakan. Apalagi jika terkena tumbukan pada saat pamancangan atau penjangkaran di laut.
Untuk menciptakan rasa aman dari bahaya ranjau dan bahan peledak, maka Pihak Pelaksana Jembatan Suramadu bekerjasama dengan TNI-AL membebaskan area trase di perairan Selat Madura dari bahaya ranjau dan bahan peledak. Operasi saber ranjau itu dilakukan dalam dua tahap. Pertama dilakukan 31 Januari  7 Februari 2004, dengan mengambil fokus di area sepanjang 50 m dari as jembatan, yaitu seluas 5,5 km x 100 m = 550.000 m2. Di operasi pertama ini berhasil meledakkan 56 buah dari perkiraan semula 38 buah.

Saber ranjau kedua berlangsung 6 Oktober - 4 November 2005 dengan meledakkan 24 ranjau. Operasi saber ranjau yang kedua dititik beratkan pada kebutuhan trase yang lebih luas dari pelaksanaan bentang tengah (main span dan approach bridge), yaitu masing 500 m dari as jembatan.

Proses penyelidikan dan penyapuan terhadap bahaya ranjau di wilayah kerja pembangunan Jembatan Suramadu di Perairan Selat Madura, meliputi:
1. Pendeteksian
Kegiatan pendeteksian menggunakan perahu perum (sounding boat) yang dilengkapi dengan GPS (Global Positioning System) untuk mendukung navigasi yang presisi.
Melakukan pendeteksian dengan menggunakan magnetometer untuk mengetahui penyimpangan kemagnetan di area pembersihan ranjau.
Melaksanakan water depth sounding menggunakan echo sounder secara cermat guna mengetahui kedalaman secara riil saat deteksi dan data masukan dalam perhitungan kontak-kontak yang didapatkan.
Melaksanakan pendeteksian Side Scan Sonar dan Sub Bottom Profile secara terpisah dengan magnetometer untuk mengetahui upper sea profile dan kedalaman kontak terhadap permukaan dasar laut.
Melaksanakan survei oseanografi/ pengamatan pasang surut dengan interval 30 menit selama tahapan deteksi dan pengukuran sifat datar (beda tinggi) yang hasilnya digunakan sebagai bahan kalkulasi kontak, kedudukan kontak, dan dimensi kontak-kontak yang didapatkan.
2. Klasifikasi/ analisis data kontak yang akan didemolisi dilaksanakan setiap hari setelah pelaksanaan pendeteksian. Dalam operasi ini telah didapatkan kontak yang diduga ranjau.
3. Penyelaman/ identifikasi kontak dilaksanakan untuk meyakinkan hasil kontak yang didapat dari pendeteksian terutama kontak yang berada di permukaan dasar laut.
4. Demolisi telah dilaksanakan terhadap kontak yang diduga ranjau, semuanya telah diledakkan dengan aman dan lancar.
5. Pendeteksian ulang terhadap kontak-kontak yang telah diledakkan dilaksanakan setelah demolisi dinyatakan selesai dengan menggunakan magnetometer.

Dengan operasi pembersihan ranjau di Selat Madura, sesuai dengan koordinat yang ditentukan, dapat dinyatakan lokasi pembangunan Jembatan Suramadu sebagai daerah bebas dari bahaya ranjau dan bahan peledak lainnya. 

[lightbox src="/images/news/saber2.jpg" width="200px" height="200px" lightbox="on" title="saber ranjau" align="left"]

Read 1581 times Last modified on Sabtu, 29 Juni 2013 09:00
rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website: www.bpws.go.id
Login to post comments