Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean
rdev

rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website URL: http://www.bpws.go.id Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Tidak mau berpangku tangan di kantor, Plt. Kepala Bapel BPWS, Herman Hidayat melakukan sidak (inspeksi mendadak) di lokasi proyek pembangunan Rest Area Tahap II dan SPAM Tangkel di Bangkalan, Selasa (21/11). Didampingi Kepala Divisi Pengendalian Pembangunan dan Kepala Divisi Penyiapan Kawasan dan jajarannya, purnawirawan polisi jenderal bintang dua ini tegas mengingatkan kontraktor untuk bekerja sesuai aturan dan harus tepat waktu dengan kualitas yang baik.

“Saya minta jangan sampai terlambat. Harus sesuai target penyelesaian. Dan lebih dari itu, saya minta dengan tegas bahwa pekerjaan harus berkualitas baik dan pelaksanaannya harus sesuai aturan,” ujar mantan Kapolda Sumatera Utara ini.

Di lokasi, Herman Hidayat terlihat mengecek sejumlah titik. Termasuk kualtias bangunan, beton dan sejumlah instrument lainnya. Ini dilakukan untuk memastikan tidak ada proses manipulative dari pelaksana kegiatan.

“Saya tidak mau main-main. Seluruh jajaran di BPWS saya minta bekerja sesuai aturan. Pun demikian, kontraktor harus selaras,” tegasnya.

Untuk diketahui target  penyelesaian resta area tahap II adalah akhir desember 2017 ini. Sementara SPAM di dusun Tangkel ditarget 30 Desember 2017.

SPAM Tangkel sendiri diproyeksikan untuk mengairi rest area yang diambil dari sumber mata air Pocong di Bangkalan. (coy)

Finalisasi Rencana Induk Percepatan Pengembangan Wilayah Suramadu kembali dilakukan antara Bapel-BPWS dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR,  Pemerintah Propinsi Jawa-Timur dan Bappeda Kabupaten di Madura. Rapat diselenggarakan pada Rabu (8 Nov ‘17) di Ruang Rapat Mustazir Bapel-BPWS, Jl. Tambak Wedi No.1 Kenjeran Surabaya.

Rapat dibuka dan dipimpin oleh Plt. Deputi Perencanaan Bapel-BPWS Dr. Ir. Agus Wahyudi, SE, MM. Hadir sebagai narasumber diantaranya Dr. Ir. Bastary Pandji Indra, MSP selaku Asisten Deputi Perumahan, Pertanahan dan Pembiayaan Infrastruktur, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Ir. IGW Samsi Gunarta, M.Appl.Sc selaku Kepala Bidang Fasilitasi Pengadaan Tanah, Pusat Pengembangan Kawasan Strategis BPIW, Kementerian PUPR, dan Ir. Suci Purnomo, MM selaku Kepala UPT Penataan Ruang dan Geoparsial Bappeda Propinsi Jawa – Timur.

Dalam sambutannya Plt. Deputi Perencanaan Bapel-BPWS mengharapkan bahwapembahasan finalisasi Rencana Induk Percepatan Pengembangan Wilayah Suramadu akan mendapat kesepakatan dan persetujuan dari pihak-pihak terkait, yaitu Pemerintah Daerah se Kabupaten Madura, Pemerintah Propinsi Jawa-Timur dan Pemerintah Pusat, sehingga bisa segara mendapatkan pengesahan.

Sementara Bastary Pandji Indra dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI menyampaikan bahwa fokus utama tugas BPWS berada di wilayah KKJSM dan KKM, yaitu sesuai dengan penugasan yang tercantum dalam Perpres No.27 tahun 2008, dan finalisasi Rencana Induk tersebut harus selesai pada bulan Desember 2017 ini. Lebih lanjut disampaikan bahwa setelah Rencana Induk tersebut disyahkan, maka akan menjadi dasar / pedoman bagi BPWS dalam melaksanakan tugas-tugasnya, yang selanjutnya akan diturunkan kedalam rencana-rencana pengembangan selanjutnya dalam rangka menterjemahkan Rencana Induk tersebut.

Sementara itu IGW Samsi Gunarta dari BPIW Kementerian PUPR mengatakan bahwa jika secara akuntabilitas Rencana Induk tersebut telah memenuhi syarat, maka seyogyanya Rencana Induk tersebut dapat langsung ditetapkan, apalagi Rencana Induk tersebut sifatnya sangatlah dinamis.

Pada kesempatan yang sama Bappeda Propinsi Jawa-Timur mengharapkan Bapel-BPWS dapat menginformasikan indikasi program yang belum diakomodir dalam RTRW dan RPJP Propinsi Jawa Timur, sehingga nantinya dapat segera diselaraskan dan akan di inline kan dengan RTRW Propinsi dan Kabupaten. (Gun)

Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Bapel-BPWS sebagaimana Pasal 12 Perpres No. 27 Tahun 2008 tentang Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura, salah satu tugas tersebut adalah fasilitasi dan stimulasi percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Jawa Timur.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada selasa (7/11), telah dilaksanakan Rapat yang bertempat di Ruang Rapat Mustazir Bapel-BPWS, Jl. Tambak Wedi No. 1 Kenjeran Surabaya terkait Pembahasan Bantuan INOPAK Institute dalam Rangka Peningkatan SDM bagi UKM/IKM Madura. Inopak Institute merupakan perkumpulan para alumni Jerman yang telah mendapatkan sponsor dari Pemerinah Jerman untuk meningkatkan usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Sebagai narasumber INOPAK Institute adalah Alfin NF Mufreni, hadir dalam pertemuan tersebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perindustrian dan tenaga Kerja Kabupaten Bangkalan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sampang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pamekasan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep, KAHMI Sampang dan Bapel-BPWS.

Dalam sambutannya Plt.Deputi Perencanaan Bapel-BPWS Agus Wahyudi mengharapkan dengan adanya INOPAK Instritute komoditi di Madura dapat ditingkatkan khususnya terkait pengemasan produk hasil UKM, hal ini karena di Madura sendiri belum ada pengemasan produk hasil olahan yang cukup baik, sehingga diharapkan kedepannya masyarakat Madura dapat meningkat pendapatannya setelah adanya pelatihan dari INOPAK Institute tersebut. 

Adapun Alfin dari INOPAK Instritute menyampaikan bahwa INOPAK Institute memiliki enam program subsidi yang diantaranya meliputi pelatihan peningkatan kualitas dan inovasi produk, pelatihan jenis kemasan, desain dan atribut produk, pelatihan teknologi kemasan

tepat guna, pelatihan penjualan online dan offline, serta mentoring dan coaching selama kerjasama. INOPAK Instritute juga membantu strategi dan negosiasi agar produk IKM dan UKM tersebut dapat masuk ke pasar modern.

Sementara dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Bangkalan mengharapkan bahwa pelatihan tersebut nantinya mulai dari proses pengolahan hingga pacaking yang lebih baik kembali bahkan sampai ke tingkat pemasarannya, karena persoalan utama yang sering menjadi penghambat adalah soal distribusi dari hasil IKM tersebut.

Sementara itu dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa-Timur menyambut baik program yang dilaksanakan BPWS dengan INOPAK Instritute tersebut, dan diharapkan daerah dapat menangkap peluang yang ada, dan lebih lanjut sampaikan bahwa program tersebut juga sejalan dengan program dari pemerintah dalam memfasilitasi IKM untuk peningkatan hasil-hasil dari produksi IKM tersebut.

Pada kesempatan yang sama Disperindag Kabupaten Pamekasan menyampaikan terkait dengan masih minimnya pengetahuan para IKM terhadap hasil produknya, khususnya tentang pengemasan, pemasaran dan lain-lain, sehingga saat ini masih dijual di level lokal, selain itu juga minimnya pengetahuan dari para pelaku usaha (IKM/UKM) terkait perijinan untuk mendapatkan sertifikat halal dan BPPOM.

Adapun dalam pertemuan tersebut disimpulkan bahwa kerjasama antara Bapel-BPWS dan INOPAK diharapkan dapat terlaksana akhir tahun ini, sehingga Januari 2018 dapat dilaksanakan sosialisasi terkait kerjasama tersebut dengan Pemerintah Daerah di Madura, dan pada bulan Februari 2018 program pelatihan tersebut dapat direalisasikan.(Gun)

Kemeriahan acara wisuda pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) berbasis kompetensi dalam bidang tanaman obat di UPT materia Medika Batu, menyelipkan pengharapan besar. Yakni, mengembalikan Madura sebagai daerah penghasil obat herbal atau jamu terkemuka.

Untuk itu, Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat (HKKM), RB. Djoni Iskandar, Sabtu (11/11) pada saat menghadiri acara penutupan kegiatan mengatakan, pihaknya akan mendorong peserta pelatihan untuk melahirkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam bidang tersebut.

“Dulu Madura dikenal dengan jamunya. Saat ini, manakala masyarakat modern kembali merindukan obat yang berbasis herbal karena tanpa efek samping, tentu hasil dari pelatihan tersebut sangat potensial untuk dikembangkan dalam industri skala UMKM,”tandasnya.

Ditambahkannya, dengan adanya industri UMKM bidang tanaman obat, setidaknya ada dua hal yang bisa diraih. Yakni, mengembalikan kejayaan Madura sebagai sentra jamu. Dan kedua, mendorong bergeraknya roda ekonomi masyarakat dari sektor tanaman obat.

“Dalam skala yang lebih luas, bisa menambah lapangan pekerjaan. Dan lebih dari itu, memberikan efek berantai yang positif dan konstruktif, sehingga ekonomi masyarakat bergerak dinamis,”tegasnya.

Hal ini diamini salah satu peserta yang menjadi lulusan terbaik, Sri Surya Ningrum. Dikatakannya, usai pelatihan tersebut dirinya sudah tidak sabar untuk menyebarkan virus positif tersebut ke masyarakat di d erahnya. Bahkan ia berencana akan membuka usaha bidang herbal yang telah digali ilmunya di UPT Materia Medika dengan bantuan BPWS.

“Saya barharap, BPWS terus melakukan pendampingan. Insyaallah, saya akan segera mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh di sini dengan membangun usaha kecil bidang obat herbal,”tegasnya. (coy) 

Plt. Kepala Bapel BPWS, Herman Hidayat mengingatkan kepada jajaran BPWS untuk berkomitmen terus melakukan evaluasi dan monitoring kepada seluruh peserta pelatihan penguatan Sumber Daya manusia (SDM) berbasis kompetensi yang sudah dilaksanakan oleh BPWS. Monitoring ini penting dan vital untuk memastikan hasil pelatihan tersebut benar-benar bermanfaat.

“Evaluasi diperlukan untuk menghasilkan langkah yang lebih baik. Sementara, monitoring sangat penting untuk memastikan bahwa peserta pelatihan ini benar-benar mendapatkan manfaat dan mengaplikasikan apa yang diperoleh selama pelatihan,” ujarnya saat penutupan pelatihan di UPT materia Medika, Sabtu (11/11).

Ia menambahkan, dengan adanya monitoring, BPWS juga bisa memandu peserta pelatihan yang terkendala dalam mengaplikasikan ilmunya. Langkah ini penting dilakukan agar kualitas SDM yang dilatih BPWS tetap terjaga dan mampu memberikan multiplier effect bagi masyarakat.

“Kami akan terus mendorong peningkatan mutu dan daya saing SDM yang kita latih. BPWS tidak ingin pelatihan yang dilaksanakan hanya hit and run tanpa ada manfaat yang mengena di masyarakat,”ujar purnawirawan polisi bintang dua ini.

Ia menyontohkan, dengan monitoring yang dilakukan akhirnya BPWS bisa membimbing dan memberikan jejaring yang bermanfaat bagi peserta didik pelatihan SDM.

“Di Pamekasan, ada yang sudah membuka bengkel sendiri.  Di Sumenep, ada yang hingga bisa ekspor produknya ke luar negeri. Bahkan ada satu angkatan yang 90 persen direkrut sebuah perusahaan otomotif skala internasional. Hal seperti ini kami harapkan terus berkelanjutan,”pungkasnya. (coy)

Badan Pengembangan Wilayah Madura (BPWS) terus mendorong peningkatan mutu dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) Madura dalam berbagai bidang. Seperti tahun sebelumnya, maka tahun 2017 ini kembali BPWS memoles SDM Madura bidang tanaman obat atau herbal.

Sejumlah 24 pemuda dan pemudi Madura dilatih selama 17 hari di UPT PK Materia Medica Batu. Mereka dilatih dalam pemanfaatan tanaman obat herbal yang menjadi kekayaan alam khas Indonesia. Selain itu juga diajarkan teknik packaging hingga teknik pemasaran.

“Kalian semua adalah calon entrepreneur alias wirastawan bidang herbal. Jadi harus belajar dengan serius karena ini menyangkut masa depan kalian, juga masa depan Madura, ”ujar Plt  Kepala BPWS, Herman Hidayat dalam pembukaan pelatihan  27 Oktober silam.

Dalam pantauan di lapangan, para peserta terlihat aktif melakukan pelatihan tersebut.  Mereka didampingi sejumlah instruktur di lokasi pelatihan yang memiliki ribuan varietas tanaman obat itu.  Peserta diajari dalam berbagai tahap. Mulai pengenalan, manfaat tanaman, pembuatan, peracikan hingga pengepakan.

Herman Hidayat menambahkan, saat ini masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah ke atas, justru semakin tertarik obat-obatan herbal yang dikenal tidak memiliki efek samping. Trend  ini kemudian menjalar ke kelompok masyarakat menengah bawah.

Dengan fakta ini, peluang untuk menggerakkan roda bisnis dari sektor obat-obatan herbal sangat besar di tahun tahun mendatang. Apalagi Madura dikenal sebagai gudang jamu-jamuan.

“Dengan pelatihan ini, kami ingin mencetak sebanyak mungkin wiraswastawan herbal di Madura. Bukan tidak mungkin, dari beberapa angkatan yang sudah kita latih, nantinya akan membuat Madura kembali berjaya dari sektor herbal ,”tegasnya berapi-api.

Untuk diketahui, para peserta dilatih selama 170 jam secara intensif. Mereka berasal dari Bangkalan dan Sampang. Para peserta dilatih secara gratis karena segala akomodasi dan biaya pelatihan ditanggung negara melalui anggaran BPWS. Hal ini merupakan bagian dari upaya BPWS untuk menyiapkan SDM Madura yang memiliki kualitas dan daya saing.(coy)