Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJSM) sisi Madura berlanjut. Pasca sosialisasi yang dilakukan di rumah Kepala Desa Pangpong, akhir bulan Agustus kemarin. Para pedagang sepakat untuk pindah.

Ada sekitar 53 lapak PKL yang dipindah. Yakni mulai dari pintu keluar Jembatan Suramadu arah Madura, hingga pintu keluar akses proyek Rest Area KKJSM. Kamis siang (5/9), beberapa pedagang bahkan sudah membongkar sendiri lapak mereka.

Sedianya, proses pembongkaran puluhan lapak semi-permanen ini akan serentak dimulai pada Senin pekan depan. Proses pembongkaran dilakukan bertahap.’’Setiap hari ada enam lapak yang dibongkar,’’ kata Ketua Paguyuban PKL Suramadu, Abdul Kadir.

Pemindahan lapak ini nantinya disediakan pengangkutan yang dikoordinir oleh pihak Kepala Desa. Diakui Abdul Kadir, beberapa pedagang memang merasa keberatan. Namun, mereka sudah sepakat demi penataan yang lebih baik.

’’Ini yang sudah didata nantinya akan pindah bertahap sampai Jumat depan. PKL sampai minggu besok masih berjualan. Beberapa sudah ada yang sudah membongkar,’’ terang Kadir yang juga berporfesi sebagai Guru ini.

Lahan pembongkaran tersebut nantinya akan dibangun _Tanean Lanjeng Suromadu_, sebagai tetenger sekaligus pintu masuk ke Madura. Kawasan tersebut akan dilebarkan dengan konsep Taman Pedestrian.

Proses pembongkaran tersebut disaksikan oleh Pengurus Paguyuban PKL Suramadu, Abdul Kadir, Kepala Desa Pangpong, Amsori, Pihak Muspika Kecamatan Sukolilo, serta Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat (HKKM), Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS).

Menurut Kepala Divisi HKKM BPWS, RB. DJoni Iskandar, pembongkaran tersebut merupakan bagian dari tahapan kelanjutan dari proyek pembangunan kawasan Rest Area hingga Overpass.

Ia menyatakan, pihak PKL sudah sepakat dengan penataan dan pemindahan tersebut.’’Setelah disosialisasikan di rumah Kepala Desa, mereka (PKL, red) sepakat untuk pindah,’’ katanya.

Pemindahan serta pembangunan _Tanean Lanjeng Suromadu_, sendiri menjadi motor untuk peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat Bangkalan. Khususnya, wilayah Desa Pangpong.

Menurut Djoni, Tanean Lanjeng dalam bahasa Madura, diartikan sebagai Halaman Muka. Artinya, kawasan ini menjadi sebuah _showroom_ pintu masuk menuju Pulau Garam.

Selama ini, wisatawan yang dating masuk ke Madura melalui Jembatan Suramadu berkeinginan untuk menikmati pemandangan.’’Namun masih kurang spott yang bagus. Sedangkan kalau mau foto atau menikmati di tengah jembatan tidak boleh. Maka dari itu, perlu adanya sebuah lokasi yang bagus dan bisa menarik perhatian,’’ terang Djoni.

Nantinya, para PKL yang terdampak dipindah rencananya akan disediakan stan berdagang di Rest Area. Hanya, untuk proses tersebut masih tengah dibahas mengenai persyaratannya.

Sebelum dipindah, para PKL khusus terdampak akan diberi pelatihan dari BPWS.’’Pelatihan ini mengenai bagaimana konsep mengemas produk dagangan yang menarik. Sehingga meningkatkan daya beli,’’ urai Djoni.(eja)

Beberapa hari ini di media sosial menyebar kabar berantai bahwa lapak PKL di kawasan rest area sudah dibagi bagi ke orang orang tertentu. Kabar ini kemudian diteruskan ke BPWS oleh salah satu tokoh pemuda Bangkalan, Hai Molabama.
“Apakah benar sudah ada bagi bagi lapak PKL denganc ara tidak procedural oleh BPWS Pak? Jika infonya sedang heboh. Jika benar, kami sebagai masyarakat terdampak,  mengajukan protes keras,” ujarnya saat mengonfirmasi ke BPWS.
Humas BPWS, Faisal Yasir Arifin yang menanggapi isu tersebut, dengan tegas mengklarifikasi bahwa informasi itu sesat alias hoax. Menurutnya, BPWS belum melakukan langkah langkah tersebut.
“Jangan mudah percaya dengan informasi yang tidak akurat. Kami apstikan, informasi itu sesat dan menyesatkan alias hoax,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan, dalam pembagian lapak PKL, akan ditempuh denganc ara cara procedural dan fair. Tidak aka ada kong kalikong dan akan dilakukan dengan cara trasnparan.
“ Komitmen kami adalah good and clean governance, jadi tidak ada istilah main main belakang. Akan dilakukan secara transparan,” tandasnya.
Saat ditanya kapan akan dilakukan, Faisal menyatakan diharapkan bisa segera ditempati apda 2019 nanti.
“ Saat ini BPWS masih mengerjakan rest area tahap kedua. Kami harapkan akhri tahun sudah selesai dan pada 2019 segera bisa digunakan,” tandasnya.
Dengan adanya resta area yang difungsikan, diharapkan akan mendorong gairah wisata di Madura, khususnya Bangkalan.
“Sehingga memberikan daya dorong ekonomi kawasan dan masyarakat bisa semakin dinamis perekonomiannya,” pungkasnya. (coy)
TITIK terang kelanjutan pembangunan di kawasan pintu masuk Bangkalan, Madura mulai terlihat. Khususnya, pemindahan PKL yang ada di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJSM) sisi barat Madura.
Pemindahan ini dalam kaitan pembangunan proyek Tanean dari pintu keluar Jembatan Suramadu arah Madura hingga tiang proyek Overpass. Tanean dalam bahasa Madura adalah Halaman.
Ada sekitar 43 lapak PKL yang nantinya bergeser sebagai terdampak dari pengerjaan pembangunan proyek Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) ini. Pemindahan ini diharapkan sudah selesai sebelum tanggal 23 September mendatang.
Menurut Deputi Perencanaan BPWS, Agus Wahyudi pemindahan PKL ini terkait proyek pembangunan yang tengah dilakukan oleh pihaknya. Diantaranya, Rest Area hingga overpass.
Agus menyatakan, sejauh ini upaya koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bangkalan sudah dilakukan.’’Kemarin kami sudah bertemu dengan Pak Sekda. Alhamdulilah upaya pembangunan ini mendapat dukungan,’’ katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi yang dilakukan di kantor BPWS bersama Camat Labang, Kepala Desa Pangpong serta dua orang perwakilan dari Paguyuban PKL, Kamis (16/8).
Menurut Agus, dalam ada beberapa persiapan dalam penataan PKL. Diantaranya, pembentukan Tim Satuan Tugas yang melibatkan unsur Forpimda Kabupaten Bangkalan dan internal BPWS.
Camat Labang, H. Mahfud meresepon positif dengan adanya pembangunan Tanean ini. Dia menilai, proyek tersebut sedianya untuk mempercantik kawasan yang menjadi pintu masuk Madura.
’’Kami mendukung penuh dengan pembangunan ini. Proses sosialisasi kami harapkan bisa dilakukan antara BPWS dengan Kepala Desa Pangpong,’’ terang dia.
Selain itu, dengan adanya proyek pembangunan Tanean, Rest Area hingga Overpass diharapkan mampu menjadi pendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat sekitar, khususnya.
Sementara, Kepala Desa Pangpong, Amsori mendorong agar proses pembangunan bisa segera dilakukan. Termasuk upaya pemindahan PKL ke kawasan Rest Area. Pihaknya mendukung penuh dalam upaya proyek BPWS sebagai pendongkrak penghasilan warga.
Dia juga menyampaikan pemindahan PKL sedianya harus dikhususkan kepada warga terdampak.’’Khususnya warga Labang sebagai warga yang terdampak nantinya,’’ kata Amsori.
Diketahui, ada sekitar 152 stan PKL yang terbagi menjadi tiga segmen disepanjang Rumija KKJSM sisi Madura wilayah barat. Segmen tersebut dihitung dari pintu keluar Jembatan Suramadu menuju Madura hingga proyek overpass.(eja)

PDAM Sumber Pocong Kabupaten Bangkalan memastikan pasokan air untuk kebutuhan di Kawasan Kaki Jembatan Suramadu (KKJSM) dan di sepanjang akses Suramadu sudah siap. Para pelaku usaha tinggal mengajukan permintaan secara tertulis.

Kepastian itu disampaikan Dirut PDAM Sumber Poncong Bangkalan Andang Pradana. Setelah rampungnya pembangunan pipa High Density Polythylene (HDPE) sepanjang sekitar 12 kilometer dari PDAM Sumber Pocong, Dusun Tangkel, Desa/Kecamatan Burneh ke KKJSM di tahun 2017.

"Kebutuhan air ke KKJSM sudah siap. Kami tinggal 'klik' saja, tinggal buka kran untuk mengalirkan air," ungkap Andang, Senin (30/4/2018).

KKJSM memiliki luas 600 hektare. Disiapkan sebagai kawasan industri, pergudangan, pusat perdagangan, kawasan wisata, hingga permukiman. Potensi investasi di KKJSM mencapai Rp 53 triliun.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggolongkan Jembatan Suramadu sebagai Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) 13 Malang-Surabaya-Bangkalan.

Di KKJSM saat ini sudah terbangun rest area di atas lahan seluas 40 hektare. Di dalamnya, telah berdiri kios-kios yang disiapkan untuk merelokasi PKL di pinggir akses Suramadu sisi Madura.

Andang menjelaskan, instalasi pipa distribusi maupun instalasi pipa tersier menuju kios-kios di rest area sudah terbangun. Bahkan, uji coba pendistribusian dan uji kekeruhan air telah dilakukan. 

"Hasilnya bagus. Jika nanti kios-kios sudah ditempati dan butuh air, kami tinggal buka kran," jelasnya.

Uji tingkat kekeruhan pada sampel air dengan metode Nephelometric menggunakan alat turbidimeter. Hasilnya menunjukkan angka 90 Nephelometric Turbidity Unit (NTU) dan bisa diturunkan menjadi 0,3 NTU.

Hasil tersebut sesuai SK Menkes Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002, kadar maksimal angka kekeruhan yang diperbolehkan adalah 5 NTU.

Andang memaparkan, hasil kajian PDAM Bangkalan bersama Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), total kebutuhan air di KKJSM mencapai 300 liter per detik atau 0,5 liter per detik per hektare.

"Sosialisasi pembangunan WTP (Water Treatment Plant) tahap II telah dilakukan. Kapasitas sama dengan WTP I yakni 50 liter per detik," paparnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah mengantongi izin dari Dinas Pengairan Provinsi Jatim sebesar 1.000 liter per detik. Namun pendirian WTP dilakukan secara bertahap mulai dari 200 liter per detik hingga 800 liter per detik. (coy)

Surabaya- Setelah melakukan penandatanganan kerjasama dengan PT Pelindo III terkait studi pengembangan pelabuhan Tanjung Bulupandan, Badan Pengembangan Wilayah Surabaya - Madura (BPWS) kembali melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan PT. Boma Bisma Indra (Persero). Dalam kegiatan yang digelar Jumat (2/2/2018) itu, keduanya menyiapkan kerjasama pengembangan kawasan industri strategis Suramadu di wilayah Madura.

Deputi Bidang Perencanaan BPWS, Agus Wahyudi mengatakan perencanaan pengembangan kawasan industri tersebut saat ini dalam tahap perencanaan yang akan dilaporkan kepada kementerian terkait dan sedang ditawarkan kepada para investor.

"Kerjasama pembentukan kawasan industri ini akan terintegrasi dengan Pelabuhan Tanjung Bulupandan serta jalan tolnya. Proyek ini akan bersinergi dengan BUMD dan BUMN atau investor lainnya,"kata Agus Wahyudi, usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), di kantor BBI di Surabaya. 

Rencana pengembangan kawasan industri strategis Suramadu tersebut akan memiliki 9 zona yang melengkapi sebuah kawasan industri terintegrasi. Yaitu zona pendidikan, zona usaha baru, bisnis start up riset dan teknologi, zona pusat kendali (tower center control), zona industri bangunan lepas pantai dan komponen, zona industri logam dasar, zona industri pertahanan dan Hi-Tech, zona industri maritim dan industri berat, serta zona kelistrikan (power plant).

Direktur Utama BBI, Rahman Sadikin mengatakan dalam kerja sama tersebut, pihaknya memiliki peran untuk membuat kajian atau studi kelayakan bisnis dalam setiap proyek di kawasan tersebut.

"Termasuk mengumpulkan BUMN strategis yang siap masuk dan ikut mengembangkan industri mandiri di Madura,"jelas Rahman”. 

Saat ini BPWS memiliki 40 ha lahan yang cukup potensi dikembangkan sebagai zona pendidikan dan industri. Diharapkan zona pendidikan bisa menghasilkan sumber daya manusia yang siap bekerja di industri-industri sekitarnya di dalam kawasan.

"Ini (perencanaan) memang masih mentah, diharapkan gaungnya sampai ke tingkat nasional mengingat investasi yang dibutuhkan sangat besar dan perlu campur tangan pemerintah," jelasnya.

Selain mengembangkan kawasan industri strategis Suramadu, kedua pihak juga akan mengembangkan Kawasan Kaki Jembatan Suramadu sisi Madura (KKJSM). Rencananya kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai pusat-pusat kuliner, wisata dan budaya. (Coy)

Pembangunan rest area tahap I senilai Rp 11.4 Miliar yang akan difungsikan untuk PKL, sudah selesai. Namun demikian, bangunan tahap I ini masih akan dilanjutkan

dengan pembangunan tahap II yg mencapai 10 hektar pd tahun 2018 ini dg biaya, senilai Rp 85 miliar.

Ini terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) Sekretariat Dewan Pengawarah (Setwanrah) BPWS di lokasi Rest Area Tahap I, kamis (1/2) siang.

"Ini belum bisa gunakan dulu karena menunggu yang 10 Ha kita bangun agar sempurna. Kita harapkan, 2019 bisa digunakan secara menyeluruh untuk mendukung perekonomian Madura,"ujar Plt. sekretaris Bpws Sidik Wiyoto yang mendampingi peninjauan.

Dalam kesempatan itu, jajaran BPWS dan Setwanrah meninjau kesempurnaan pembangunan tahap I.

Beberapa titik diminta untuk disempurnakan agar bisa digunakan dengan aman dan nyaman.

"Kami optimis, ini (rest area) bisa memberikan nilai lebih dr sisi ekonomi madura," ujarnya.

Lebih jauh, Plt. Deputi perencanaan, Agus Wahyudi mengatakan, pembangunan rest area ini menjadi satu bagian dari perencanaan BPWS dalam pengembangan Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura (KKJSM).

"Ini berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur lainnya. Seperti kemarin kita melakukan MoC dengan Pelindo, lalu dengan BBI (Boma Bisma Indra). Tujuannya agar dapat memberikan percepatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Madura," ujarnya. (Coy)

Sekretariat Dewan Pengarah (setwanrah) mengusulkan agar rest area ini baik Tahap I maupun Tahap II, ini dapatnya untuk memberikaan sentuhan lokal. Ini tujuannya untuk memberikan identitas ikonik Madura dalam proyek yang dibangun.

"Seperti misalnya di Jogja atau Bali. Itu akan memberikan nilai lebih dalam memasarkan produk yg akan ditampung di rest area,"ujar Wakil ketua bidang perencanaan dan penganggaran Setwanrah BPWS, saat Sidak di Rest Area Tahap I, kamis (1/2).

Lebih lanjut dia mengatakan,di Bali,konten lokal tersebut bahkan di Perda kan. Sehingga, bangunan apapun di Bali, diwajibkan memberi sentuhan lokal.

"Misalnya yang ikonik, patung karapan sapi, atau rumah adat Madura. Jadi wisawatan nanti bisa menikmati dan tertarik pada hal ikonik tersebut,"tandasnya.

Lebih lanjut, pakar teknik ini mengatakan, pihaknya juga meminta agar dicheck secara menyeluruh seluruh proyek pembangunan tersebut. Tujuannya agar pembangunannya bisa  disempurnakan sesuai design yang ada.

"Seperti jaringan air minumnya, jaringan drainase dan lain sebagainya,"tandasnya”.(Coy)