Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Rapat Tindak Lanjut Hasil Feasibility Study (FS) Proyek “Livehood Enhancement In Rural Community In Coastal Area Through Seaweed Value Chain Improvement In Sumenep District”

Kementerian Perindustrian sebagai focal point kerjasama selatan-selatan di bidang industri kembali menyelenggarakan rapat koordinasi sebagai tindak lanjut dari hasil feasibilites study (FS) yang dilakukan oleh UNIDO dalam proyek “livehood enhancement in rural community in coastal area through seaweed value chain improvement in Sumenep district”.

Rapat diselenggarakan pada hari Jum’at (28 Agust’ 2015) bertempat di Ruang Borneo Lt.16, Ditjen KII, Kementerian Perindustrian. Rapat dipimpin langsung oleh Bapak Riris Marhadi selaku Sekretaris Ditjen KII Kementerian Perindustrian, dan dihadiri oleh Direktorat Promosi dan Kerjasaman LN, Ditjen PPHP Kementerian Kelautan dan Perikanan, Plt. Kepala Bapel-BPWS, Deputi Pengendalian (Plt. Deputi Perencanaan Bapel-BPWS), Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumenep, UNIDO, serta dari unsur internal Kementerian Perindustrian diantaranya dari Setditjen IKM Kementerian Perindustrian, Setditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Direktorat Hasil Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindutrian, dan Koordinator Kerjasama Selatan-Selatan.

Dari hasil feasibility study yang dilakukan oleh UNIDO, Frank hartwich selaku UNIDO Headquarter menyatakan bahwa pendapatan ekonomi petani rumput laut di Kabupaten Sumenep relative kecil, hal itu ditambah dengan minimnya akses kesehatan dan pendidikan disana. Terkait harga dan kualitas rumput laut di Sumenep juga sangatlah rendah, hal ini ditambah juga dengan monopoli harga yang dilakukan oleh pengepul sangat kuat, sehingga harga rumput laut di tingkat petani jadi tidak menentu. Sehingga untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas rumput laut, maka dari hasil Feasibility Study tersebut UNIDO menawarkan teknologi baru.

Teknologi tersebut berupa “MUZE proses” yaitu dengan melakukan pengeringan rumput laut dibawah penutup plastik transparan, sehingga air penguapan dapat langsung dialirkan dan ditampung untuk dijadikan pupuk (proses vertilizer) dengan menambahkan beberapa zat/enzim yang berguna untuk menyuburkan tanaman. Metode ini juga akan lebih baik kualitasnya dan lebih steril serta memenuhi standar dibandingkan dengan cara konvensional (pembaceman) yang selama ini dilakukan, sehingga harga rumput laut akan lebih meningkat di kisaran harga premium. 

Sementera Bapak Riris Marhadi menyambut baik hal tersebut, dan meminta proyek tersebut segera dapat dimasukkan dalam blue book Bappenas. Dan terkait inkind contribution yang akan diberikan oleh Bapel-BPWS sebaiknya jangan dianggarakan terlebih dahulu dalam DIPA BPWS, sebaiknya menggunakan flexible budget saja sebelum ada kejelasan dari donor country yang akan membiayai proyek tersebut. 

Beliau juga menyampaikan jika saat ini donor country untuk membiayai proyek tersebut memang belum ada dan masih dalam proses pendekatan intens. Akan tetapi  jika dalam jangka pendek UNIDO belum mampu untuk membiayai proyek tersebut, maka sambil berjalan kerjasama Kementerian Perindustrian (sebagai koordinator) dengan Kementerian Kelauatan dan Perikanan dan Bapel-BPWS sementara dapat melakukan pembinaan kepada petani rumput laut di Sumenep dalam bentuk pelatihan-pelatihan.

Pada kesempatan yang sama Bapak Herman Hidayat selaku Plt.Kepala Bapel-BPWS mengatakan, “bahwa pengenalan alat atau teknologi baru harus diuji-cobakan terlebih dahulu kepada masyarakat, karena masyarakat tidak akan menerima begitu saja suatu hal baru, biarlah masyarakat yang akan menilai ke-efektifan dan manfaat dari alat tersebut, jika hasilnya baik maka otomatis masyarakat akan mengikuti. “ ujannya.

Sementara Bapak M. Jakfar selaku Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumenep menyoroti masalah panjangnya mata rantai penjualan hasil produksi rumput laut di Sumenep. Beliau mengharapkan jika ada pabrik SRC di Sumenep, maka otomatis mata rantai penjualan yang panjang akan dapat direduksi atau bahkan dieliminir, sehingga harga jual di tingkat petani akan tinggi.

Kesimpulan dari rapat tersebut diantaranya menghasilkan poin bahwa UNIDO ingin memperkenalkan teknologi baru kepada masyarakat petani rumput laut di Sumenep untuk proses pengeringan rumput laut (MUZE proses) yang mana lebih steril dan memenuhi standar sehingga akan meningkatkan harga penjualan. Aspek “pemasaran” dan “investor” merupakan hal terpenting dan mendesak yang dibutuhkan oleh petani rumput laut dan Pemerintah Daerah Sumenep saat ini. (gun)

Read 618 times
rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website: www.bpws.go.id
Login to post comments