Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

BADAN Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) kembali menggelar pelatihan bagi Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Sumenep.

Ini kali kedua program dari Sub Divisi Pemberdayaan, Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat dilakukan.

Sebelumnya, program Pelatihan Ekonomi Kreatif Berbasis Kompetensi Tentang Teknologi Pengemasan bagi IKM digelar pada 2018 kemarin.

Kali ini program tersebut diikuti sebanyak 60 IKM yang ada di wilayah Timur Madura ini.’’Sebelum melakukan pelatihan, teknisnya sama dengan sebelumnya. Kita lakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada calon peserta,’’ terang Kepala Sub Divisi Kerjasama Pemerintah Daerah dan Swasta, Divisi HKKM BPWS, Adita Putri Pertiwi.

Ditemui disela-sela sosialisasi yang digelar di Aula UPT Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sumenep, Selasa kemarin, Adita mengatakan program pelatihan tersebut juga kembali menggandeng Inopak Institute sebagai lembaga yang memberikan pelatihan.

’’Pelatihan ini akan memfokuskan bagaimana mekanisme teknologi pengemasan produk IKM. Selain itu juga IKM mendapat ilmu dalam pengolahan makanan yang baik. Sehingga meningkatkan nilai jual produk mereka,’’ terang alumnus Universitas Surabaya ini.

Terpisah, Kepala Seksi Perdagangan Dalam dan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep, Agus Wahyudi merespon positif kegiatan ini.

Ia menyatakan pihaknya membuka lebar kesempatan bagi IKM Sumenep untuk berkembang.’’Ilmu yang diberikan harus diikuti sungguh-sungguh oleh peserta. Ini demi meningkatkan pendapatan mereka. Sehingga taraf kesejahteraan masyarakat bisa bertambah pula,’’ ujarnya. Rencananya agenda pelatihan ini akan dijadwalkan pada tanggal 30 April hingga tanggal 2 Mei mendatang. (edw)

GELIAT pembangunan pariwisata mulai terlihat di Ujung Timur Madura. Salah satunya Pantai Sembilan. Menikmati keelokan pesonanya saat Mentari tenggelam diujung cakrawala. Menandai bangkitnya perekonomian ditengah kearifan lokal disana.

Bulir pasir putih tersapu sepoi angin, sore itu. Pendaran warna biru dari lautan terhampar sejauh mata memandang. Cuaca begitu mendukung. Saking heningnya, debur ombak menjadi latar belakang syahdu di Pantai Sembilan.

Dibibir pantai, dua tiang bambu bercat kuning dibuat menopang ayunan bergoyang karena hembusan angin. Itu bagian dari lokasi yang digunakan sebagai spott foto. Dibuat dan dihias bernuansa Instagramable.

Deretan hunian (cootage) dengan arsitektur rumah panggung menghadap laut. Jika dilihat dari atas, gradasi warna laut dengan terang lampu-lampu dari hunian begitu termaram saat gelap malam menggelayut. Rasanya ingin berlama-lama tinggal.

Pantai Sembilan berada di Desa Bringsang. Salah satu dari delapan desa di Kecamatan Gili Genting. Luas wilayah kecamatan tersebut membentang dengan jarak 30,3 kilometer persegi, atau sekitar satu persen dari luas Kabupaten Sumenep, Madura.

Jumlah Desa di Kecamatan Gili Genting sebanyak 8 desa antara lain Jate, Lombang, Bonbaru, Banmaleng, Bringsang, Gedugan, Galis, dan Aeng Anyar. Selain wilayah daratan, Kecamatan Gili Genting juga mempunyai pulau dalam wilayah administratifnya.

Upaya membangkitkan gairah pariwisata ini tidak terlepas dari peran Sutlan. Ia adalah Kepala Desa Bringsan. Bukan perjuangan yang mudah. Butuh waktu tiga tahun lamanya, merangkak dari nol hingga saat ini mulai dikenal.

’’Saya bangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,’’ terang Sultan.

Untuk menuju ke lokasi Pantai Sembilan, akses yang ditempuh melalui Pelabuhan Tanjung di Kecamatan Sronggi. Lalu wisatawan bisa naik boat menuju Pulau Gili Genting. Ongkosnya seharga Rp 10 ribu per orang.

Nah, sesampainya mendarat di bibir Pantai Sembilan mata kita akan disuguhui ciptaan Tuhan yang begitu indah. Rasanya, seakan tidak berada di wilayah kepulauan di Jatim.

Uniknya, bentuk hunian sebagai lokasi bermalam bergaya arsitektur Madura.’’Ini semua memakai bahan baku asli Madura dengan konsep yang dibuat oleh warga sekitar,’’ ujar dia.

Untuk menikmati malam dilokasi tersebut, Sutlan membangun hunian cootage sebanyak 22 unit. Ukuran kamar cukup besar. Satu kamarnya bisa menampung empat sampai 6 orang tamu.

Harga bermalamnya terjangkau. Mulai Rp 500 ribu per kamar.’’Fasilitas yang membedakan adalah kamar yang ber AC atau tidak. Yah, intinya tamu merasa senang,’’ kata Sutlan.

Ide menjadikan tanah kelahirannya sebagai destinasi wisata ini, ketika Sutlan melihat potensi Pantai Sembilan yang begitu elok. Namun, belum ada tangan-tangan pemerintah setempat melirik hal itu.

Sutlan lantas meyakinkan para sesepuh desa, Tokoh Masyrakat, dan anak muda disana untuk menata wilayah menjadi destinasi wisata.

’’Hingga akhirnya Saya dikirim ke Lombok oleh Pemkab Sumenep untuk studi banding. Hingga kini destinasi ini menjadi Badan Usaha Milik Desa,’’ terangnya.

Tantangan diakuinya lebih kepada kearifan lokal wilayah Desa Bringsang, yang sangat religius.’’Menyamakan pemahaman itu susah. Namun, kami membuat aturan baku untuk wilayah ini menjadi lokasi wisata,’’ terang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Sehingga, para tamu wisatawan yang datang khususnya dari Mancanegara harus mentaati aturan lokasi tersebut.’’Ibaratnya destinasi Internasional cita rasa kearifan lokal,’’ ujar pria berusia 42 tahun ini.

Itu dibuktikan dengan kunjungan wisatawan asing yang tercatat sebanyak 150 orang setiap bulannya. Sementara, kunjungan wisatawan lokal dinilai masih signifikan peningkatannya.

Kedepan, Sutlan terus menyiapkan sumberdaya lokal di Pantai Sembilan khususnya anak-anak muda sebagai Tour Guide serta menata lokasi pantai untuk lebih memikat dari kunjungan para tamu.

’’Mau menu Seafood ada dengan harga murah, pemandangan sangat indah. Ayo silahkan berkunjung ke Pantai terindah yang ada di Sumenep, Madura,’’ ujarnya tersenyum sembari berpromosi. (edw)

Salah satu tugas BPWS adalah Peningkatan Ketrampilan SDM, kali ini BPWS bekerja sama dengan UPT BLK Singosari melaksanakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan SDM Wilayah Madura, yang pembukaannya dilaksanakan pada hari Jumat Pukul 09.00 WIB di UPT BLK Singosari. Acara ini dihadiri oleh Kepala Divisi Pengendalian Pembangunan BPWS Mohammad Anwar,  Kepala Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Timur Sukardo dan Kepala UPT BLK Singosari Hariyadi Budihardjo.

Sambutan diawali oleh Hariyadi Budihardjo selaku Kepala UPT BLK Singosari, dalam sambutannya Hariyadi Budihardjo menjelaskan bahwa peserta yang dilatih sebanyak 48 orang dan berasal dari Kabupaten Bangkalan sebanyak 30 Orang, Kabupaten Sampang sebanyak 6 Orang, Kabupaten Pemekasan sebanyak 6 Orang dan Kabupaten Sumenep sebanyak 6 orang. Mereka akan dilatih selama 240 jam, untuk mengikuti pelatihan Teknik Mesin Perkakas/Bubut , Pelatihan Teknik Multimedia  dan Pelatihan Teknik Instalasi Listrik. Para peserta yang telah dilatih ini nantinya akan mendapatkan Sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

 

Kepala Divisi Pengendalian Pembangunan Mohammad Anwar, dalam sambutannya mengharapkan para peserta pelatihan diharapkan dapat memajukan masyarakat Madura dan Jawa Timur umumnya. (Nin)

Program pelatihan Sumber daya Manusia (SDM) yang dilakukan  BPWS untuk pemuda pemudi di Madura akan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Sebab, ini merupakan salah satu langkah yang mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing agar mereka mampu ebrbciara lebih dalam persaingan global.  Apalagi nanti ektika Madura semakin maju dan bergerak dinamis.

Sejak 2011 hingga 2015, tak kurang dari 3.700 SDM Madura yang telah dilatih dalam berbagai bidang keterampilan. Baik otomotif, teknisi computer, IT, kerajinan, souvenir, obat herbal, kuliner, olahan pangan, teknologi asap cair dan lain sebagainya.

 “Ini bertujuan untuk mempersiapkan SDM menghadapi rencana besar pembangunan di Madura agar masyarakat Madura tidak menjadi penonton di rumah sendiri. Program ini akan terus dilakukan setiap tahun dengan skala yang terus ditingkatkan. Baik jumlah peserta maupun bidang yang akan dilatih,” Kepala Divisi Pengendalian pembangunan Ir. Anwar Madjid MSi.

Untuk diketahui, keberadaan  jembatan Suramadu diakui ataupun tidak memberi manfaat besar bagi perekonomian Madura. Namun demikian, jika tidak disertai dengan upaya meningkatkan daya saing Sumber daya Manusianya, mustahil eksistensi jembatan tersebut memberi manfaat kepada masyarakat Madura secara luas dan merata.

Ini dikatakan Plt Kepala BPWS  Irjen Pol (Purn) Drs Herman Hidayat SH MM Dikatakannya, perlu ada penyiapan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara kontinyu, sistematis dan terarah.

“Sehingga, kelak Madura bisa benar-benar berubah ke arah yang jauh lebih baik namun tetap menjaga nilai-nilai kultur,’ ujarnya.

Ditambahkannya, pihaknya yakin, dalam sepuluh tahun ke depan jika pola pemberdayaan yang dilakukan bisa menyentuh pada simpul-simpul pokok dan esensial dari masyarakat yang membutuhkan, maka perekonomian Madura akan bangkit dan muncul menjadi kekuatan ekonomi besar di Indonesia.

“Siapa yang menyangsikan daya juang orang-orang m Madura? Mereka mampu hidup dalam kondisi  minim. Nah, jika ini dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, maka bukan mustahil kekuatan besar akan muncul dari Madura,” ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, apa yang dilakukan BPWS tersebut patut didukung dan didorong untuk terus berlajut.

 

“Namun juga perlu dukungan dari pemerintah daerah setempat, baik Pemprop Jatim maupun kabupaten di Madura,” pungkas mantan Kapolda Sumetera barat ini. (coy)

Madura tidak hanya dikenal sebagai Pulau Garam, akan tetapi juga dijuluki dengan Pulau Sapi. Daging sapi Madura dikenal memiliki cita rasa yang khas. Ini tak lepas dari kontur geografis pulau ini yang membuat daging sapi Madura lebih legit.

Fakta ini menarik perhatian sejumlah investor. Dalam pameran di Jakarta silam, sejumlah investor mengaku tertarik untuk menjajaki kerjasama memasok sapi dari Madura. Ini dikatakan Kepala Divisi Perwakilan BPWS Jakarta, Drs Amiruddin MM.
“Mereka bahkan sanggup menerima pasokan hingga 5000 ekor per bulan. Ini peluang luar biasa,” tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya akan mengkomunikasin dengan pemerintah daerah setempat di Madura. Sebab, peluang ini akan memberikan dampak perekonomian luar biasa bagi Madura.

“BPWS hanya memfasiltiasi.  Kami hanya membantu saja,” tandasnya.

Untuk diketahui,  Madura dikenal sebagai salah satu penghasil sapi yang khas. Hal ini karena  hampir semua masyarakat petani di perdesaan biasa dipastikan beternak sapi.

Kegemaran masyarakat Madura beternak sapi ini tidak hanya mendatangkan keuntungan secara ekonomi semata, namun kegemaran masyarakat di Pulau Garam ini juga mampu menciptakan tradisi dan budaya yang mengakar.

Budaya karapan sapi, sapi sonok dan sapi taccek (sapi pajangan) merupakan potret kecintaan masyarakat terhadap ternak sapi.

Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat, populasi sapi di empat kabupaten di Pulau Madura itu setiap tahun terus bertambah. Hasil pendataan yang dilakukan lembaga itu menunjukkan, populasi sapi di Pulau Madura pada 20015 mencapai kisaran 1 juta ekor. Ini meningkat daripada tahun 2014 yang 806.608 ekor.

Angka ini juga mengalami peningkatan dibanding 2012 yang hanya mencapai 787.424 ekor dengan jumlah terbanyak di wilayah Kabupaten Sumenep yakni mencapai 360.000 ekor lebih.

Berdasarkan potensi yang ada itulah, maka pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menganggap bahwa Pulau Madura memiliki potensi besar untuk dijadikan kawasan pengembangan peternakan sapi di Indonesia.

Populasi sapi di Madura bahkan menyamai populasi sapi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan sapi di Indonesia.

Bahkan di Pulau Madura ada salah satu pulau yang jumlah populasi sapinya melebihi jumlah penduduk. Di pulau itu populasi ternak sapi mencapai 50.000 ekor, sementara warganya hanya sekitar 40.000 jiwa

"Namanya Pulau Sepudi masuk Kabupaten Sumenep," Bupati Sumenep, KH Busyro A karim kala itu.

Bupati Pamekasan, Ahmad Syafii menyatakan,  meski populasi ternak sapi di Kabupaten Pamekasan tergolong sedikit ketimbang Sumenep, namun pemkab membuat program terobosan baru untuk meningkatkan populasi ternak.

"Program itu adalah Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran pada ternak sapi," katanya.

Program ini, katanya, untuk merespons upaya percepatan swasembada daging sapi nasional Tahun 2014 lalu yang telah dicanangkan pemerintah pusat.

Untuk diketahui, daging sapi Madura dikenal memiliki kualitas terbaik di Jawa Timur. Pigmen dagingnya sedikit berada di bawah daging sapi Bali yang kualitasnya terbaik di Indonesia.

Itulah kenapa populasi dan ras sapi Madura benar - benar dijaga.Bagi para konsumen, persepsi awal ketika hendak membeli daging adalah warna.

Dilanjutkan dengan pertimbangan keempukan daging yang didasarkan atas kemudahan penetrasi gigi pada daging saat mengunyah.

Warna daging sapi Madura merah cerah, empuk, berserat halus, dan rendah lemak.

Keunggulan lainnya, karkas (berat daging sapi tanpa kepala, kaki, jeroan, dan kulit) daging sapi Madura mencapai 48 persen dari berat badan sapi.

"Sapi dari daerah lain di Pulau Jawa, berat karkas 45 persen. Sapi Bali berat karkas mencapai 51 persen dari berat badan sapi. Tapi sapi Bali tulang belulangnya kecil, lebih besar tulang sapi Madura," ungkap Kabid Kesehatan Hewan, Kesmavet, dan Pelayanan Peternakan Dispertanak Bangkalan, A Azisun Hamid

Catatan dari Dispertanak Kabupaten Bangkalan, kontribusi sapi potong Madura cukup besar sampai 24 persen dari kebutuhan sapi potong yang berasal dari Jawa Timur. Jumlah tersebut tidaklah berpengaruh terhadap populasi dan ras sapi Madura.

Populasi sapi Madura setiap tahunnya terus meningkat. Di tahun 2014, populasinya mencapai 800 ribu lebih. Dari empat kabupaten di Madura, Sumenep menjadi daerah dengan populasi sapi terbanyak yakni sekitar 360 lebih ekor.

"Kalau sapi di Bangkalan sekitar 180 ribu hingga 190 ribu ekor," paparnya.

Azisun Hamid menjelaskan, tren peningkatan populasi sapi di Madura disebabkan faktor fisik sapi yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca apapun, bahkan cuaca kemarau yang ekstrem.

Sapi betina Madura yang kurus karena kekurangan pakan masih bisa hamil. Fisik kuat itu terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos Indics atau sapi Zebu. Di mana secara genetik, memiliki sifat toleran terhadap iklim panas serta tahan terhadap serangan caplak.

Namun, lanjut Azisun Hamid, pihaknya tidak cukup berpangku tangan terhadap kekuatan fisik sapi saja untuk meningkatkan populasi sapi Madura.

 

"Program pusat mencanangkan 1000 kelahiran pedet (anak sapi). Kami berikan vitamin A, D, dan E untuk reproduksi dan pakan berkualitas," jelasnya (coy)

Salah satu tugas dan fungsi BPWS adalah melatih SDM yang ada di Madura, BPWS dalam hal ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur UPT Materia Medica Batu dengan melaksanakan Pelatihan Industri – Teknik Pengembangan dan Pemanfaatan Tanaman Obat dengan melatih 22 orang dari SMK Farmasi Yannas Husada Bangkalan.

Acara yang dibuka pada tanggal 22 November 2015 ini juga dihadiri oleh Kepala Divisi HKKM BPWS Tadjus Subkhi dan Kepala UPT Materia Medica Batu Husin Rayesh Mallaleng, acara ini akan berlangsung hingga tanggal 8 Desember mendatang, setiap peserta pelatihan diajarkan bagaimana pemanfaatan tanaman obat  untuk digunakan dalam pengobatan tradisional. Selanjutnya dalam pelatihan tersebut dilakukan pengenalan jenis tanaman obat, manfaat obat tradisional, pengolahan dan cara produksi obat tradisional yang baik.

Selain itu, peserta diberi pelatihan kewirausahaan, cara berorganisasi dan usaha kelompok masyarakat, proses pengolahan tanaman obat, termasuk praktek pengolahan tanaman obat keluarga untuk  anti oksidan serta praktek pengolahan untuk obat diabetes. Dengan dilaksanakannya latihan ini diharapkan para peserta yang dilatih nanti mampu mengelola tanamanan obat yang ada di sekitar lingkungan mereka untuk dapat diolah menjadi Jamu yang siap pakai dan bebas dari BKO (Bahaya Bahan Kimia Obat). Para peserta yang telah lulus dalam latihan ini akan diberikan sertifikat yang dapat digunakan sebagai dasar pengalaman untuk dapat diaplikasikan ke masyarakat. (Nin)