Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Pengukuran Pasut (Pasang-Surut) Air Laut

Penentuan evelasi

Pengukuran Pasut ini dimaksudkan untuk mendapatkan data elevasi titik-titik yang ada di permukaan bumi maupun titik-titik yang ada di atas laut, baik di sisi Surabaya dan di sisi Madura. Metode Pasut ini dikombinasikan dengan pengukuran sipat datar untuk mendapatkan data bagi pelaksanaan pembangunan Jembatan Suramadu. Pada pengukuran Pasut ini adalah untuk menentukan jenis/tipe Pasut dan ketinggian muka air laut rata-rata (MSL=Mean Sea Level) sebagai titik referensi (titik nol) untuk pengukuran elevasi. Pasut terjadi akibat gerakan bulan mengelilingi

bumi, dimana tipe Pasut untuk suatu daerah akan bervariasi tergantung pada beberapa hal, antara lain:

  • Besarnya massa air laut yang bergerak.
  • Faktor angin.
  • Topografi dasar laut (Bathimetri).
  • Gerakan bulan mengelilingi bumi.

Pengukuran Pasut pada Jembatan Suramadu memakai periode 15 hari (15 piantan) yang dilakukan mulai dari tanggal 8 - 23 Agustus 2003 dengan lokasi di kedua sisi, yaitu di Desa Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran Surabaya (X=696.658 m, Y=9.203.380 m) dan di Desa Sekar Bunguh, Kecamatan Labang, Madura (X=696.697 m,Y=9.208.115 m).

Pelaksanaan pengukuran Pasut dilakukan dengan memasang Tide Pole (rambu pasut) di tempat yang selalu terendam air laut, baik pada saat air laut pasang tertinggi dan pada saat air laut surut terendah dan diamati pada Tide Pole tersebut, dicatat data ketinggian air laut setiap jam selama 15 hari. Mengingat lokasi pengamatan di Surabaya dan di Madura mempunyai topografi yang berbeda maka untuk sisi Surabaya, dengan lokasi yang lebih dangkal, dipasang 4 Tide Pole sedangkan di sisi Madura dengan lokasi lebih dalam dipasang 3 Tide Pole, tujuannya adalah untuk mentransfer data pengamatan pasut dan untuk memenuhi kondisi pasang tertinggi/surut terendah. Melihat sifat air laut yang dinamis membentuk gelombang sinusoida, maka pembacaan pada Tide Pole menggunakan kesepakatan: "Bacaan angka rambu tertinggi pada saat datangnya penggunaan gelombang berurutan 3 kali dan cekungan gelombang 3 kali dirata-rata". Ilustrasi cara pembacaan Tide Pole seperti pada gambar-1 berikut

Sisi Surabaya

Kedudukan air surut (LWL) berada pada 0.990 meter di bawah muka air laut rata-rata (MSL). Kedudukan air pasang(LWL) berada pada 1.300 meter di atas muka air laut rata-rata (MSL)

Sisi Madura

Kedudukan air surut (LWL) berada pada 0.990 meter di bawah muka air laut rata-rata (MSL) Kedudukan air pasang(LWL) berada pada 0.980 meter di atas muka air laut rata-rata (MSL).

Read 4728 times Last modified on Kamis, 18 Juli 2013 23:48
rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website: www.bpws.go.id
More in this category: « Total Station
Login to post comments