Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Program pelatihan Sumber daya Manusia (SDM) yang dilakukan  BPWS untuk pemuda pemudi di Madura akan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Sebab, ini merupakan salah satu langkah yang mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing agar mereka mampu ebrbciara lebih dalam persaingan global.  Apalagi nanti ektika Madura semakin maju dan bergerak dinamis.

Sejak 2011 hingga 2015, tak kurang dari 3.700 SDM Madura yang telah dilatih dalam berbagai bidang keterampilan. Baik otomotif, teknisi computer, IT, kerajinan, souvenir, obat herbal, kuliner, olahan pangan, teknologi asap cair dan lain sebagainya.

 “Ini bertujuan untuk mempersiapkan SDM menghadapi rencana besar pembangunan di Madura agar masyarakat Madura tidak menjadi penonton di rumah sendiri. Program ini akan terus dilakukan setiap tahun dengan skala yang terus ditingkatkan. Baik jumlah peserta maupun bidang yang akan dilatih,” Kepala Divisi Pengendalian pembangunan Ir. Anwar Madjid MSi.

Untuk diketahui, keberadaan  jembatan Suramadu diakui ataupun tidak memberi manfaat besar bagi perekonomian Madura. Namun demikian, jika tidak disertai dengan upaya meningkatkan daya saing Sumber daya Manusianya, mustahil eksistensi jembatan tersebut memberi manfaat kepada masyarakat Madura secara luas dan merata.

Ini dikatakan Plt Kepala BPWS  Irjen Pol (Purn) Drs Herman Hidayat SH MM Dikatakannya, perlu ada penyiapan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara kontinyu, sistematis dan terarah.

“Sehingga, kelak Madura bisa benar-benar berubah ke arah yang jauh lebih baik namun tetap menjaga nilai-nilai kultur,’ ujarnya.

Ditambahkannya, pihaknya yakin, dalam sepuluh tahun ke depan jika pola pemberdayaan yang dilakukan bisa menyentuh pada simpul-simpul pokok dan esensial dari masyarakat yang membutuhkan, maka perekonomian Madura akan bangkit dan muncul menjadi kekuatan ekonomi besar di Indonesia.

“Siapa yang menyangsikan daya juang orang-orang m Madura? Mereka mampu hidup dalam kondisi  minim. Nah, jika ini dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, maka bukan mustahil kekuatan besar akan muncul dari Madura,” ujarnya.

Untuk itu, lanjutnya, apa yang dilakukan BPWS tersebut patut didukung dan didorong untuk terus berlajut.

 

“Namun juga perlu dukungan dari pemerintah daerah setempat, baik Pemprop Jatim maupun kabupaten di Madura,” pungkas mantan Kapolda Sumetera barat ini. (coy)

Madura tidak hanya dikenal sebagai Pulau Garam, akan tetapi juga dijuluki dengan Pulau Sapi. Daging sapi Madura dikenal memiliki cita rasa yang khas. Ini tak lepas dari kontur geografis pulau ini yang membuat daging sapi Madura lebih legit.

Fakta ini menarik perhatian sejumlah investor. Dalam pameran di Jakarta silam, sejumlah investor mengaku tertarik untuk menjajaki kerjasama memasok sapi dari Madura. Ini dikatakan Kepala Divisi Perwakilan BPWS Jakarta, Drs Amiruddin MM.
“Mereka bahkan sanggup menerima pasokan hingga 5000 ekor per bulan. Ini peluang luar biasa,” tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya akan mengkomunikasin dengan pemerintah daerah setempat di Madura. Sebab, peluang ini akan memberikan dampak perekonomian luar biasa bagi Madura.

“BPWS hanya memfasiltiasi.  Kami hanya membantu saja,” tandasnya.

Untuk diketahui,  Madura dikenal sebagai salah satu penghasil sapi yang khas. Hal ini karena  hampir semua masyarakat petani di perdesaan biasa dipastikan beternak sapi.

Kegemaran masyarakat Madura beternak sapi ini tidak hanya mendatangkan keuntungan secara ekonomi semata, namun kegemaran masyarakat di Pulau Garam ini juga mampu menciptakan tradisi dan budaya yang mengakar.

Budaya karapan sapi, sapi sonok dan sapi taccek (sapi pajangan) merupakan potret kecintaan masyarakat terhadap ternak sapi.

Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat, populasi sapi di empat kabupaten di Pulau Madura itu setiap tahun terus bertambah. Hasil pendataan yang dilakukan lembaga itu menunjukkan, populasi sapi di Pulau Madura pada 20015 mencapai kisaran 1 juta ekor. Ini meningkat daripada tahun 2014 yang 806.608 ekor.

Angka ini juga mengalami peningkatan dibanding 2012 yang hanya mencapai 787.424 ekor dengan jumlah terbanyak di wilayah Kabupaten Sumenep yakni mencapai 360.000 ekor lebih.

Berdasarkan potensi yang ada itulah, maka pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menganggap bahwa Pulau Madura memiliki potensi besar untuk dijadikan kawasan pengembangan peternakan sapi di Indonesia.

Populasi sapi di Madura bahkan menyamai populasi sapi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan sapi di Indonesia.

Bahkan di Pulau Madura ada salah satu pulau yang jumlah populasi sapinya melebihi jumlah penduduk. Di pulau itu populasi ternak sapi mencapai 50.000 ekor, sementara warganya hanya sekitar 40.000 jiwa

"Namanya Pulau Sepudi masuk Kabupaten Sumenep," Bupati Sumenep, KH Busyro A karim kala itu.

Bupati Pamekasan, Ahmad Syafii menyatakan,  meski populasi ternak sapi di Kabupaten Pamekasan tergolong sedikit ketimbang Sumenep, namun pemkab membuat program terobosan baru untuk meningkatkan populasi ternak.

"Program itu adalah Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran pada ternak sapi," katanya.

Program ini, katanya, untuk merespons upaya percepatan swasembada daging sapi nasional Tahun 2014 lalu yang telah dicanangkan pemerintah pusat.

Untuk diketahui, daging sapi Madura dikenal memiliki kualitas terbaik di Jawa Timur. Pigmen dagingnya sedikit berada di bawah daging sapi Bali yang kualitasnya terbaik di Indonesia.

Itulah kenapa populasi dan ras sapi Madura benar - benar dijaga.Bagi para konsumen, persepsi awal ketika hendak membeli daging adalah warna.

Dilanjutkan dengan pertimbangan keempukan daging yang didasarkan atas kemudahan penetrasi gigi pada daging saat mengunyah.

Warna daging sapi Madura merah cerah, empuk, berserat halus, dan rendah lemak.

Keunggulan lainnya, karkas (berat daging sapi tanpa kepala, kaki, jeroan, dan kulit) daging sapi Madura mencapai 48 persen dari berat badan sapi.

"Sapi dari daerah lain di Pulau Jawa, berat karkas 45 persen. Sapi Bali berat karkas mencapai 51 persen dari berat badan sapi. Tapi sapi Bali tulang belulangnya kecil, lebih besar tulang sapi Madura," ungkap Kabid Kesehatan Hewan, Kesmavet, dan Pelayanan Peternakan Dispertanak Bangkalan, A Azisun Hamid

Catatan dari Dispertanak Kabupaten Bangkalan, kontribusi sapi potong Madura cukup besar sampai 24 persen dari kebutuhan sapi potong yang berasal dari Jawa Timur. Jumlah tersebut tidaklah berpengaruh terhadap populasi dan ras sapi Madura.

Populasi sapi Madura setiap tahunnya terus meningkat. Di tahun 2014, populasinya mencapai 800 ribu lebih. Dari empat kabupaten di Madura, Sumenep menjadi daerah dengan populasi sapi terbanyak yakni sekitar 360 lebih ekor.

"Kalau sapi di Bangkalan sekitar 180 ribu hingga 190 ribu ekor," paparnya.

Azisun Hamid menjelaskan, tren peningkatan populasi sapi di Madura disebabkan faktor fisik sapi yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca apapun, bahkan cuaca kemarau yang ekstrem.

Sapi betina Madura yang kurus karena kekurangan pakan masih bisa hamil. Fisik kuat itu terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos Indics atau sapi Zebu. Di mana secara genetik, memiliki sifat toleran terhadap iklim panas serta tahan terhadap serangan caplak.

Namun, lanjut Azisun Hamid, pihaknya tidak cukup berpangku tangan terhadap kekuatan fisik sapi saja untuk meningkatkan populasi sapi Madura.

 

"Program pusat mencanangkan 1000 kelahiran pedet (anak sapi). Kami berikan vitamin A, D, dan E untuk reproduksi dan pakan berkualitas," jelasnya (coy)

Komisi D DPRD Bangkalan menggelar hearing dengan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) di ruang Mustazir BPWS di Jl. Tambak Wedi No.1 Surabaya, Jumat (15/1) siang. Dalam hearing itu, anggota Komisi D ditemui langsung Plt. Kepala BPWS, Herman Hidayat beserta jajarannya. Hearing ini merupakan langkah koordinasi usai sinergi positif antara BPWS - Bangkalan terbangun di 2015 kemarin.
Ketua Komisi D DPRD Bangkalan, Drs. H. Hosyan Muhammad, SH menyatakan, sinergi positif yang sudah terbangun tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan langkah konkrit untuk kepentingan rakyat Madura secara luas. "Komitmen kami adalah untuk memastikan bahwa rakyat Madura benar-benar bisa menikmati madu nya pembangunan,"tegasnya. Lebih lanjut ia mengatakan, selain itu pihaknya berharap sumber daya kultural yang memiliki nilai tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat Madura, harus terus didorong sebagai potensi ekonomi yang dapat mensejahterakan.
"Seperti halnya batik Madura yang memiliki nilai adiluhung. Kami berharap ada upaya bersama dari BPWS untuk turut mendorong sektor ini agar lini ekonomi kerakyatan semakin bergerak dinamis," tandasnya. Sementara itu, Deputi Perencanaan BPWS yang memberikan penjelasan kepada rombongan DPRD Bangkalan menyatakan, kunjungan tersebut merupakan langkah pro aktif yang sangat diapresiasi. Ia menjelaskan, pada 2016 ini selain infrastruktur, BPWS juga akan mendorong upaya penguatan ekonomi dengan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) dan eksibisi potensi Madura di tingkat regional Jawa Timur maupun di level nasional serta internasional.

"Batik jelas menjadi atensi kami. Salah satunya yang sudah kami fasilitasi adalah batik Pamekasan. Untuk Bangkalan, kami harapkan pada 2016 ini bisa kita fasilitasi,” tandasnya. Ia menambahkan, untuk infrastruktur pada 2016, BPWS akan membangun peningkatan jalan akses Suramadu hingga kampus UTM yang merupakan permintaan Bupati Bangkalan. Kemudian pembangunan SPAM, pembangunan rest area dan peningkatan kualitas jalan di beberapa titik, fasilitasi dan stimulasi di empat kabupaten. (coy)

Kinerja Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) tahun 2015 lalu, patut diapresiasi positif. Ini karena sejumlah indikator kinerja positif berhasil ditorehkan.  Terlihat dari salah satu indikator berupa tingginya penyerapan anggaran 2015 yang mencapai 93,45 persen. Salah satu penyerapan tertinggi adalah adanya pembebasan lahan di Bangkalan seluas 20,5 hektar yang akan di gunakan sebagai rest area senilai 168,8 miliar yang menyumbang penyerapan 56 persen.

Pembebasan lahan ini juga menandai berakhirnya kebuntuan komunikasi yang selama ini terjadi antara BPWS dengan Pemkab Bangkalan, sebelumnya di tahun yang sama Pemkab Bangkalan sepakat untuk menandatangani MoU dengan BPWS. Selain itu, keberhasilan BPWS meraih peringkat 6 di kancah nasional dalam keterbukaan informasi public juga menjadi prestasi yang menandakan adanya transparansi di instansi tersebut.

Di bidang penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), BPWS pada 2015 telah melatih 136 pemuda pemudi Madura dalam pelatihan di berbagai bidang yang berbasis kompetensi dan bersertifikasi nasional. Total sejak 2011, ada sekitar 3900 SDM Madura yang telah dilatih BPWS dalam berbagai bidang. Fakta ini terungkap dalam pembahasan monitoring dan eveluasi kegiatan BPWS 2015 dan rencana kegiatan 2016 yang dipimpin Plt. Kepala BPWS, Herman Hidayat di ruang Mustazir BPWS pada rabu, tanggal 6 Januari 2016.

"Dari tahun ke tahun, kinerja penyerapan menunjukkan progres positif. Pada Tahun 2013 kita hanya mampu serap 25 persen, Tahun 2014 serap 76% dan Tahun 2015 ini kita mampu 93,45 persen," ujar purnawirawan polisi bintang dua ini. Hadir dalam monev tersebut seluruh deputi, kepala divisi dan kepala sub divisi di BPWS.

Untuk 2016, Herman Hidayat menegaskan agar BPWS ada kelanjutan dari pembebasan lahan di Bangkalan, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), stimulasi di setiap kabupaten, pembangunan landscape di Kawasan Kaki Jembatan Sisi Surabaya (KKJSS). Selain itu pembangunan fisik akan di laksanakan di Bangkalan yg merupakan Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura (KKJSM). "2016, BPWS akan berlari kencang. Apalagi hambatan pembebasan lahan sudah beres," tegas mantan Kapolda Sumatera Barat ini. (Coy) 

 

Setelah sempat macet bertahun tahun,Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) berhasil membebaskan lahan rest area 20,5 ha di Desa Pangpong Bangkalan. Ini menjadi tanda kemesraan dan hubungan harmonis BPWS dengan Pemkab Bangkalan.
Pembayaran ganti untung itu dilakukan di kantor wilayah VIII Bank Mandiri di Jl Basuki Rahmat SURABAYA, Selasa (29/12). Hadir dalam pembayaran tersebut Asisten III Pemkab Bangkalan M Gufron yang mewakili Bupati Bangkalan, Plt Kepala BPWS, Herman Hidayat, Kepala BPN Bangkalan, Winarto dan muspika Bangkalan. Tanah seluas 20,5 ha tersebut milik 32 pemilik.
Lahan yg dibebaskan tersebut merupakan bagian dari total 40 ha lahan yg dibutuhkan untuk pembangunan rest area di kawasan kaki suramadu sisi Madura.
"Sisanya Insya Allah akan kita bebaskan tahun depan. Kami optimis karena hubungan antara Bangkalan dan BPWS semakin harmonis. Kami ucapkan terimakasih yang luar biasa kepada Pemkab Bangkalan dan seluruh pihak yang terlibat," ujar Plt Kepala BPWS, herman Hidayat.
Sementara Asisten III Pemkab Bangkalan menyampaikan pesan Bupati Bangkalan, R Makmun Ibnu Fuad menegaskan, apa yg dilakukan saat ini adalah bentuk kepedulian Pemkab dan BPWS terhadap kemajuan Madura.
"Insya Allah, ke depan Bangkalan dan Madura bisa maju dan bersinar. Kami berpesan kepada masyarakat yg saat ini jadi miliader, untuk menggunakan dana ini dengan bijak. Jangan untuk hura hura, tapi digunakan pada cara yg baik dan diridhoi. Misalnya untuk membuka lapangan kerja," ujarnya.
Untuk diketahui, dari 32 pemilik lahan, penerima ganti untung paling besar adalah lahan milih H. Hadiri senilai Rp 60, 7 miliar. Paling rendah milih Siti Nurholifah senilai Rp 310 juta.
Untuk diketahui, rest area di wilayah Pangpong di Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura (KKJSM) ini kelak akan dibangun pasar umum sebagai etalase madura, parkir umum, islamic centre. Sehingga, KKJSM akan didisain menjadi sentra kemajuan Madura. (Humas BPWS)

Audiensi dan kunjungan Bapel-BPWS ke lokasi KEK Pariwisata Tanjung Lesung Banten dilaksanakan pada hari Selasa – Rabu (24 – 25 November 2015).  Dalam kunjungan tersebut Plt. Kepala Bapel-BPWS Drs. Herman Hidayat, SH, MM yang didampingi oleh para kepala divisi di Lingkungan Bapel-BPWS diterima langsung oleh Poernomo Siswoprasetijo Tjiptowardojo selaku Direktur PT. Banten West Java (BWJ) dan didampingi oleh Asst. Site Director PT. Banten West Java (BWJ) M. Saprudin P. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Sekretariat Dewan Kawasan KEK Propinsi Banten, Kepala Kantor Administratur KEK Tanjung Lesung, Bappeda Propinsi Banten serta Bappeda kabupaten Pandeglang.

Dalam audiensi dan kunjungan lapangan tersebut Bapel-BPWS bermaksud ingin belajar tentang pengembangan KEK Pariwisata Tanjung Lesung, terkait kendala-kendala apa yang dihadapi serta strategi-strategi apa yang telah diterapkan sehingga KEK Pariwisata Tanjung Lesung dapat berkembang pesat seperti sekarang ini.

KEK Pariwisata Tanjung Lesung sendiri dibentuk berdasarkan PP No.29 Tahun 2012 dengan luas 1.500 hektar dan terletak di wilayah Kecamatan Panimbang dan masuk dalam wilayah Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. KEK Tanjung Lesung pada awalnya merupakan hasil studi dari JICA tahun 1990, dan pembebasan lahannya sendiri baru dimulai pada tahun 1996. Adapun Kompensasi dari pembebasan lahan bagi masyarakat sekitar salah satu diantaranya adalah dengan membangun sarana dan prasarana sekolah mulai dari jenjang SD sampai SMU, penyediaan air bersih sampai pada balai pengobatan. 

Dalam kesempatan tersebut Poernomo Siswoprasetijo mengatakan, “Ada dua hal terkait ide awal pengembangan KEK Pariwisata Tanjung Lesung, pertama adanya moral dari pemegang saham Jababeka (induk dari PT.BWJ) yang pada waktu itu sangat concern pada Pandeglang yang masuk dalam kategori daerah miskin,  dan kedua adanya keinginan untuk mengembangkan daerah baru yang masih belum tersentuh dan belum memiliki infrastruktur, “ ujarnya.

Adapaun terkait investor, Poernomo Siswoprasetijo mengatakan bahwa cara untuk meyakinkan para investor agar mau bekerjasama adalah dengan mengembangkan konsep masterplan yang jelas, misalnya dengan melakukan road show (promosi) kepada para investor baik yang ada di dalam maupun luar negeri, serta dengan mengadakan seminar-seminar. 

Sementara Sapta Gumilar dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Banten menyampaikan bahwa awal pembentukan KEK Pariwisata Tanjung Lesung jika mereview ke belakang memang tidak mudah, harus ada rencana aksi berkali-kali untuk mendorong progress yang sudah dijalankan. Intinya harus ada komunikasi yang baik dengan Pemerintah Daerah setempat, para ulama, kalangan akademisi, LSM serta para stakeholder yang ada di Propinsi Banten.

Pada kesempatan yang sama Joice Irmawanti selaku Kepala Kantor Administrator KEK Tanjung Lesung menyampaikan bahwa salah satu keunggulan yang dijual oleh KEK adalah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), sehingga investor tidak akan kesulitan karena seluruhnya dapat dilayani di dalam kawasan tersebut. Dan di dalam Administrator KEK itu sendiri ada pelayanan Imigrasi, Bea-Cukai hingga Ketenaga-kerjaan yang akan menjadi one governance service. (Gun)