Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

[accordion]
[acc_item title="Dari Redaksi"]

Assalamualakum...

[lightbox src="images/buletin/buletin1.JPG" width="200px" height="300px" lightbox="on" title="buletin1" align="left"]

Suramadu membentang menyambung asa dua pulau, Jawa-Madura. Titian ini merupakan ekstraksi cita-cita, semangat dan kerja keras tokoh-tokoh Madura, tokoh Jatim dan seluruh elemen yang memiliki asa yang sama. Sejak 1950, mimpi tentang jembatan ini sudah menggunung, hingga akhirnya terealisasi pada 2009.

Dalam perjalanannya, ekspektasi tinggi dari masyarakat agar Jembatan Suramadu memberi manfaat besar bagi rakyat harus benar-benar bisa diwujudnyatakan. Inilah yang ditangkap pemerintah pusat yang kemudian membentuk BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu) dengan Perpres nomor 27 Pada 2008 silam. Meski demikian, secara riil BPWS baru bisa dikatakan ada secara struktural organisatoris dan anggaran pada 2011.

BPWS memiliki tugas besar untuk melanjutkan langkah awal yang telah dijejakkan para pendahulu. Pada posisi inilah, kekhawatiran yang menyatakan BPWS akan mereduksi peran pemerintah daerah dan menabrak Undang-Undang Otonomi Daerah, harus dibuang jauh-jauh. BPWS justru sebagai mitra sekaligus fasilitator untuk kemudian bersinergi dalam aras yang sama demi kepentingan dan kemaslahatan rakyat.

Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo SH M Hum yang dalam berbagai lawatannya ke sejumlah negara macan Asia getol mempromosikan Madura. Rencana investasi jutaan dollar Amerika siap mengucur ke bumi Serambi Madinah ini. Rencana Induk yang disusun BPWS pun mendudukkan Madura dalam lanskap pembangunan yang menyeluruh. Dana triliunan rupiah siap dikucurkan untuk membangun wilayah sebagai kelanjutan adanya Jembatan Suramadu. Bukan hanya fisik, namun juga meliputi pembangunan sumber daya manusia.

Pada dimensi inilah, Jembatan Suramadu hanyalah sebagai katalisator perubahan menuju keadaan yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tentu perubahan yang diharapkan tidak menggerus karakteristik kultur agamis yang sudah menjadi ciri khas. Sebagaimana diamanatkan para ulama Madura kepada BPWS.

Tentu, semua rencana yang telah disusun ini tidak akan berjalan jika tidak ada sinergitas dari seluruh elemen yang ada. Jembatan Suramadu hanya akan menjadi seonggok bangunan beton belaka jika elemen yang terlibat hanya berfikir eksklusif dan menegasikan kepentingan rakyat yang jauh lebih besar.

Bertaut pada amanah luhur yang diemban BPWS,tidak tersampaikannya informasi secara benar terkadang memicu syak wasangka dan berimbas pada munculnya pro kontra. Untuk itulah, MAJALAH SURAMADU lahir sebagai salah satu upaya agar informasi yang tersampaikan ke khalayak tidak bias dan memicu syak wasangka. Selain itu, MAJALAH SURAMADU juga berfungsi sebagai sumber informasi sekaligus menjadi etalase untuk masyarakat luas dalam mengenal lebih dalam tentang wilayah Suramadu. Baik eksotisme, potensi kawasan dan luhurnya tradisi religi di Madura, pesatnya perkembangan di Surabaya dan ragam informasi lainnya. Sehingga, diharapkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pengembangan kawasan.

Mungkin majalah ini jauh dari sempurna. Kritik konstruktif dan masukan dari berbagai pihak menjadi bagian yang dibutuhkan untuk terus berproses menjadi lebih baik. Salam dari dapur redaksi… Wassalamu’alaikum…..

[/acc_item]
[acc_item title="Lihat Buletin Suramadu Versi Online"][/acc_item]
[/accordion]