Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Bangkalan – Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS)  terus melakukan upaya riil pembangunan di Madura pada 2015 ini. Salah satunya melanjutkan rencana pembangunan jalan akses menuju Pelabuhan Peti Kemas Socah yang saat ini kondisinya masi belum rampung. 

Ini disampaikan Kepala BPWS Mohamad Irian saat meninjau lokasi proyek. Didampingi Wakil Kepala BPWS herman Hidayat, Deputy Pengendalian Agus Wahyudi,  dan sejumlah sejumlah Kepala Divisi di BPWS serta unsur dari Balai Besar Jalan Nasional V.

Pembangunan Madura mutlak diperlukan sebagaimana amanah Perpres  27 tahun 2008. Pembangunan ini juga merupakan salah satu upaya untuk percepatan  pembangunan Madura khususnya untuk meningkatkan perekonomian di wilayah Jawa Timur.

“Komitmen BPWS untuk membangun Madura tidak perlu diragukan. Bersama pemkab, kita akan bersinergi menyusun agar rencana program pembangunan bisa terlaksana dengan baik dan bisa memberi manfaat positif bagi Madura,”kata Irian di lokasi proyek.

Pembangunan Suramadu – Socah sendiri saat ini masih terkendala karena masih adanya lahan yang belum terbebaskan. Rencananya pada tahun anggaran 2015, BPWS yang bekerjasama dengan Balai Besar Jalan Nasional V akan melanjutkan pembangunan akses jalan nasional Suramadu – Socah tersebut. “Pembangunann pada sisi Madura akan terus dilanjutkan mengingat ini adalah bagian tugas dan fungsi dari BPWS, dimana pembangunann jalan akses Suramadu – Socah termasuk di dalamnya,”imbuhnya.

Akses jalan yang akan dibangun oleh BPWS tersebut memilik lebar 40 m dan panjang 1,2 Km, yang nantinya akan mempermudah akses menuju Pelabuhan Socah. Kondisi saat ini untuk menuju Pelabuhan Socah masih harus menempuh perjalanan yang agak jauh dari Jembatan Suramadu. Dengan adanya akses jalan Nasional ini diharapkan akan mempermudah dan mempercepat akses menuju Pelabuhan Socah.  

Untuk diketahui, diharapkan Pelabuhan Peti Kemas Socah di Kabupaten Bangkalan ini akan memberi pengaruh pada perekonomian masyarakat Bangkalan khususnya dan masyarakat Jawa Timur umumnya. Karena memberikan multiplier effect berupa lapangan pekerjaan bagi masyarakat Bangkalan, baik dari usaha pelabuhan itu maupun atau dari efek usaha yang akan timbul dari adanya Pelabuhan Peti Kemas tersebut. 

Harapan dari usaha pembangunan jalan akses Nasional ini akan mempermudah akses menuju Pelabuhan Peti kemas Socah serta turut membantu percepatan perekonomian Jawa Timur. (pip)

 

Salah satu tugas BPWS berdasarkan amanat yang tertuang dalam Perpres No. 27 tahun 2008 adalah melaksanakan fasilitasi dan stimulasi percepatan pembangunan wilayah Surabaya-Madura. Terkait dengan itu Bupati Sampang tidak menyia-nyiakan amanat itu dengan meminta kepada BPWS untuk berperan dalam pembangunan jalan dan jembatan ruas jalan Sreseh-Pangarengan di Kabupaten Sampang Tahun Anggaran 2014 yang dimohon dari “pembebasan dan pengadaan lahan” melalui surat No. 600/60/434.108/2014 tanggal 27 Februari 2014 tentang Dana Pembebasan Tanah. Ini adalah suatu awal yang baik bagi kerja sama antara PEMKAB Sampang dengan BPWS untuk mencapai percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Selama ini masyarakat di empat desa mulai dari Desa Noreh, Labuhan, Marparan dan Disanah, seakan-akan terisolasi dengan wilayah utara Kabupaten Sampang karena belum adanya infrastruktur jalan yang layak yang menghubungkan keempat desa itu.
Untuk mewujudkan kerja sama pembangunan trsebut, Pada tanggal 5 Maret 2014 dilakukan pembahasan rencana pengadaan tanah bagi pembangunan jalan dan jembatan pada ruas jalan Sreseh-Pangarengan bersama Pemerintah Kabupaten Sampang. Yang dihadiri oleh Pimpinan Badan Pelaksana BPWS, SEKDA Kabupaten Sampang, BAPPEDA Sampang, Asisten I Sampang, Dinas PU Bina Marga Sampang, Kepala Bagian Pembangunan Sampang, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Sampang, BPN, Camat Sreseh dan Pangarengan, serta konsultan perencanaan studi kelayakan jembatan Srepang. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan Rencana Pengadaan Tanah untuk trase sepanjang 12 km seluas 28,8 Ha dari dana BPWS dan sepanjang 2,623 km dari dana Kabupaten Sampang.


BPWS mengidentifikasikan wilayah Sreseh, Pangarengan dan Camplong sebagai kawasan klaster X yang memiliki potensi unggulan dibidang garam, kerajinan dan pariwisata. Kawasan klaster X ini berpotensi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi lokal, namun perlu dukungan pembangunan infrstruktur termasuk pembangunan jalan dan jembatan baik untuk akses produksi, perdagangan maupun transportasi.
Seperti yang disampaikan oleh Menteri PU “Djoko Kirmanto” disetiap pertemuan yang mengenai pengadaan tanah beliau mengatakan bahwa proses pembebasan lahan untuk proyek apapun memang paling sulit (Antara, 20 Mei 2014), “tidak semudah membalikkan telapak tangan”, inilah resiko awal bagi setiap proyek pembangunan apalagi proyek yang berhubungan dengan tanah milik warga masyarakat. Namun Tim Persiapan Pengadaan Tanah yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dan didukung oleh PEMDA Kabupaten Sampang dan BPWS telah berusaha bekerja dengan baik melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui sosialisasi yang dilaksanakan dari tanggal 13 Juni 2014 di Desa Noreh dan Labuhan. Pada tanggal 16 Juni 2014 di Desa Marparan dan Disanah, Kecamatan Sreseh.
Setiap tahapan kegiatan pengadaan tanah didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Sampang, masyarakat Sreseh-Pangarengan Sampang yang setuju dengan rencana pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan Srepang (Sreseh-Pangarengan) untuk kepentingan masyarakat Kabupaten Sampang-Madura. Diharapkan dalam pelaksanaan pembangunan fisik nanti mendapatkan dukungan masyarakat Sreseh-Pangarengan pada khususnya dan masyarakat Sampang pada umumnya. Sehingga wilayah Klaster X ini terbuka dari isolasi transportasi dan mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Tujuan dan maksud dari dibangunnya Jalan dan Jembatan Sreseh-Pangarengan ini nantinya adalah:
1. Mengatasi kemacetan pada Pasar Blega
2. Mengatasi saat terjadinya banjir di Blega
3. Mempersingkat jarak tempuh warga empat desa ke Sampang (Tidak berputar ke arah Bangkalan) (dan)

Lokasi casting yard berada di Marina Shipyard, Desa Sidorukun, Gresik, dengan luasan sekitar 30.000m2 berada pada tepi laut dengan kedalaman yang mencukupi sehingga memudahkan loading/unloading material dari laut. Jarak dari casting yard ke lokasi proyek bentang tengah sekitar 12 km, yang dapat ditempuh sekitar 45-60 menit dengan speed boat.

Pembangunan Jembatan Suramadu sempat terhenti ketika
krisis moneter menghantam perekonomian Indonesia

Awal tahun 2004, Indonesia diterpa bebagai bencana. Konsentrasi pendanaan untuk pembangunan infrastruktur pun lebih