Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean

Madura tidak hanya dikenal sebagai Pulau Garam, akan tetapi juga dijuluki dengan Pulau Sapi. Daging sapi Madura dikenal memiliki cita rasa yang khas. Ini tak lepas dari kontur geografis pulau ini yang membuat daging sapi Madura lebih legit.

Fakta ini menarik perhatian sejumlah investor. Dalam pameran di Jakarta silam, sejumlah investor mengaku tertarik untuk menjajaki kerjasama memasok sapi dari Madura. Ini dikatakan Kepala Divisi Perwakilan BPWS Jakarta, Drs Amiruddin MM.
“Mereka bahkan sanggup menerima pasokan hingga 5000 ekor per bulan. Ini peluang luar biasa,” tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya akan mengkomunikasin dengan pemerintah daerah setempat di Madura. Sebab, peluang ini akan memberikan dampak perekonomian luar biasa bagi Madura.

“BPWS hanya memfasiltiasi.  Kami hanya membantu saja,” tandasnya.

Untuk diketahui,  Madura dikenal sebagai salah satu penghasil sapi yang khas. Hal ini karena  hampir semua masyarakat petani di perdesaan biasa dipastikan beternak sapi.

Kegemaran masyarakat Madura beternak sapi ini tidak hanya mendatangkan keuntungan secara ekonomi semata, namun kegemaran masyarakat di Pulau Garam ini juga mampu menciptakan tradisi dan budaya yang mengakar.

Budaya karapan sapi, sapi sonok dan sapi taccek (sapi pajangan) merupakan potret kecintaan masyarakat terhadap ternak sapi.

Badan Pusat Statistik Jawa Timur mencatat, populasi sapi di empat kabupaten di Pulau Madura itu setiap tahun terus bertambah. Hasil pendataan yang dilakukan lembaga itu menunjukkan, populasi sapi di Pulau Madura pada 20015 mencapai kisaran 1 juta ekor. Ini meningkat daripada tahun 2014 yang 806.608 ekor.

Angka ini juga mengalami peningkatan dibanding 2012 yang hanya mencapai 787.424 ekor dengan jumlah terbanyak di wilayah Kabupaten Sumenep yakni mencapai 360.000 ekor lebih.

Berdasarkan potensi yang ada itulah, maka pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menganggap bahwa Pulau Madura memiliki potensi besar untuk dijadikan kawasan pengembangan peternakan sapi di Indonesia.

Populasi sapi di Madura bahkan menyamai populasi sapi di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan sapi di Indonesia.

Bahkan di Pulau Madura ada salah satu pulau yang jumlah populasi sapinya melebihi jumlah penduduk. Di pulau itu populasi ternak sapi mencapai 50.000 ekor, sementara warganya hanya sekitar 40.000 jiwa

"Namanya Pulau Sepudi masuk Kabupaten Sumenep," Bupati Sumenep, KH Busyro A karim kala itu.

Bupati Pamekasan, Ahmad Syafii menyatakan,  meski populasi ternak sapi di Kabupaten Pamekasan tergolong sedikit ketimbang Sumenep, namun pemkab membuat program terobosan baru untuk meningkatkan populasi ternak.

"Program itu adalah Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran pada ternak sapi," katanya.

Program ini, katanya, untuk merespons upaya percepatan swasembada daging sapi nasional Tahun 2014 lalu yang telah dicanangkan pemerintah pusat.

Untuk diketahui, daging sapi Madura dikenal memiliki kualitas terbaik di Jawa Timur. Pigmen dagingnya sedikit berada di bawah daging sapi Bali yang kualitasnya terbaik di Indonesia.

Itulah kenapa populasi dan ras sapi Madura benar - benar dijaga.Bagi para konsumen, persepsi awal ketika hendak membeli daging adalah warna.

Dilanjutkan dengan pertimbangan keempukan daging yang didasarkan atas kemudahan penetrasi gigi pada daging saat mengunyah.

Warna daging sapi Madura merah cerah, empuk, berserat halus, dan rendah lemak.

Keunggulan lainnya, karkas (berat daging sapi tanpa kepala, kaki, jeroan, dan kulit) daging sapi Madura mencapai 48 persen dari berat badan sapi.

"Sapi dari daerah lain di Pulau Jawa, berat karkas 45 persen. Sapi Bali berat karkas mencapai 51 persen dari berat badan sapi. Tapi sapi Bali tulang belulangnya kecil, lebih besar tulang sapi Madura," ungkap Kabid Kesehatan Hewan, Kesmavet, dan Pelayanan Peternakan Dispertanak Bangkalan, A Azisun Hamid

Catatan dari Dispertanak Kabupaten Bangkalan, kontribusi sapi potong Madura cukup besar sampai 24 persen dari kebutuhan sapi potong yang berasal dari Jawa Timur. Jumlah tersebut tidaklah berpengaruh terhadap populasi dan ras sapi Madura.

Populasi sapi Madura setiap tahunnya terus meningkat. Di tahun 2014, populasinya mencapai 800 ribu lebih. Dari empat kabupaten di Madura, Sumenep menjadi daerah dengan populasi sapi terbanyak yakni sekitar 360 lebih ekor.

"Kalau sapi di Bangkalan sekitar 180 ribu hingga 190 ribu ekor," paparnya.

Azisun Hamid menjelaskan, tren peningkatan populasi sapi di Madura disebabkan faktor fisik sapi yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca apapun, bahkan cuaca kemarau yang ekstrem.

Sapi betina Madura yang kurus karena kekurangan pakan masih bisa hamil. Fisik kuat itu terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos Indics atau sapi Zebu. Di mana secara genetik, memiliki sifat toleran terhadap iklim panas serta tahan terhadap serangan caplak.

Namun, lanjut Azisun Hamid, pihaknya tidak cukup berpangku tangan terhadap kekuatan fisik sapi saja untuk meningkatkan populasi sapi Madura.

 

"Program pusat mencanangkan 1000 kelahiran pedet (anak sapi). Kami berikan vitamin A, D, dan E untuk reproduksi dan pakan berkualitas," jelasnya (coy)

Salah satu tugas dan fungsi BPWS adalah melatih SDM yang ada di Madura, BPWS dalam hal ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur UPT Materia Medica Batu dengan melaksanakan Pelatihan Industri – Teknik Pengembangan dan Pemanfaatan Tanaman Obat dengan melatih 22 orang dari SMK Farmasi Yannas Husada Bangkalan.

Acara yang dibuka pada tanggal 22 November 2015 ini juga dihadiri oleh Kepala Divisi HKKM BPWS Tadjus Subkhi dan Kepala UPT Materia Medica Batu Husin Rayesh Mallaleng, acara ini akan berlangsung hingga tanggal 8 Desember mendatang, setiap peserta pelatihan diajarkan bagaimana pemanfaatan tanaman obat  untuk digunakan dalam pengobatan tradisional. Selanjutnya dalam pelatihan tersebut dilakukan pengenalan jenis tanaman obat, manfaat obat tradisional, pengolahan dan cara produksi obat tradisional yang baik.

Selain itu, peserta diberi pelatihan kewirausahaan, cara berorganisasi dan usaha kelompok masyarakat, proses pengolahan tanaman obat, termasuk praktek pengolahan tanaman obat keluarga untuk  anti oksidan serta praktek pengolahan untuk obat diabetes. Dengan dilaksanakannya latihan ini diharapkan para peserta yang dilatih nanti mampu mengelola tanamanan obat yang ada di sekitar lingkungan mereka untuk dapat diolah menjadi Jamu yang siap pakai dan bebas dari BKO (Bahaya Bahan Kimia Obat). Para peserta yang telah lulus dalam latihan ini akan diberikan sertifikat yang dapat digunakan sebagai dasar pengalaman untuk dapat diaplikasikan ke masyarakat. (Nin)

Dalam rangka pengembangan pulau Gili Iyang sebagai salah satu destinasi wisata kesehatan di Indonesia, bertempat di kantor Bapel-BPWS pada Rabu, tanggal 25 Februari 2015, telah dilaksanakan rapat terkait presentasi master plan Pulau Gili Iyang yang sebelumnya telah di sayembarakan oleh Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Rapat dibuka langsung oleh Kepala Bapel-BPWS, Ir. Mohammad Irian, MEng.SC, dan sebagai narasumbernya dari Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan, Ditjen Cipta Karya Kementerian PU dan Perumahan Rakyat Jonny Zainuri Echsan, ST, MCM. Acara tersebut dihadiri oleh unsur Bappeda Propinsi dan Bappeda Kabupaten se Madura, Dinas Pariwisata Propinsi dan kabupaten Sumenep, serta Satker PBL Cipta Karya Kementerian PU PERA dan Propinsi Jawa-Timur sebagai pelaksananya, dan juga PT. Unitri Citra sebagai pihak Konsultan penyusunan Master Plan Gili Iyang

Dalam sambutannya Kepala Bapel-BPWS menyampaikan bahwa pengembangan wisata Pulau Gili Iyang perlu didukung bersama-sama baik oleh Pemerintah Pusat (Kementerian PU PERA, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, dan kementerian terkait lainnya) maupun oleh pemerintah daerah, serta harus melibatkan pula unsur masyarakat daerah setempat.
Sementara Jonny Zainuri Echsan, ST, MCM, selaku narasumber menyampaikan bahwa sebelum dilakukan penyusunan master plan sudah ditentukan batasan-batasan wilayah dalam penyusunan sayembara wisata Gili Iyang ini. Gili Iyang akan dijadikan kawasan wisata tematis karena memiliki kadar kualitas oksigen (O2) yang lebih bagus. Tentunya masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan setelah studi Gili Iyang ini dikerjakan dan masih perlu disinkronisasikan dari studi-studi yang sudah ada yang pernah dikerjakan oleh Pemda. Jonny Zainuri Echsan  juga menggaris-bawahi perihal masih perlunya ada sentuhan-sentuhan finalisasi master plan wisata Gili Iyang yang telah disusun tersebut.
Jalannya Rapat Presentasi Master Plan Wisata Pulau Gili Iyang (25 Feb’15)

Pada kesempatan yang sama konsultan PT.Unitri Citra menyampaikan perihal klasifikasi jalan yang akan dikembangkan di pulau Gili Iyang meliputi jalan Lingkar Pulau dengan lebar 3 m, jalan lingkungan sekunder dengan lebar 2.5 m, serta jalan lokal dengan lebar 1-2 m. Unitri Citra juga menyampaikan bahwa di tahun pertama yang dapat dikerjakan adalah pengembangan area penerima pengunjung dan pengembangan sarana jalan serta pengembangan ulititas dan jaringan listrik, sedang nanti untuk pengembangan di tahun ke-empat adalah pengembangan vegetasi dengan tujuan mempertahankan kadar nilai oksigennya (O2).
Dalam rapat tersebut juga dibahas perihal program bidang ke Cipta Karya an, dimana masing-masing Pemerintah Daerah di wilayah Madura dapat menyampaikan usulan program bidang ke Cipta Karya an untuk selanjutnya akan difasilitasi melalui BPWS ke Ditjen Cipta Karya Kementerian PU PERA.  Dan untuk Gili Iyang perlu ada rapat pembahasan secara periodik yang fokus membahas master plan dan pengembangan wisata Gili Iyang ini. (gun)

Dalam rangka menerima Kunjungan Masa Reses H. Nizar Zahro dan Drs. H. Gatot Sudjito, M.Si anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Daerah Pemilih Jawa Timur, telah diadakan pertemuan pada hari Selasa, tanggal 03 Maret 2015 di Kantor Badan Pelaksana BPWS jalan Tambak Wedi no 1 Surabaya,

Sesuai dengan amanah Perpres No.27 Tahun 2008 juncto Perpres No.23 tahun 2009 tentang Badan Pengembangan Wilayah Suramadu, bahwa tugas Bapel-BPWS adalah mendorong percepatan pengembangan wilayah Surabaya-Madura untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa-Timur. Salah satu sektor yang menjadi perhatian BPWS adalah bidang pariwisata, hal ini telah di tindaklanjuti dengan diadakannya rapat koordinasi tanggal 19-20 November 2014. Dan sebagai tindak lanjut dari rakor tersebut maka diadakan kembali rapat lanjutan pada tanggal (03/12/2014) dengan agenda menjaring program Pariwisata dari masing-masing daerah yang ada di wilayah Madura untuk di sinergikan dengan program dari Pemerintah Propinsi maupun Pemerintah Pusat. 

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Bapak Ary Basoeki yang merupakan staff ahli dari Kementerian Pariwisata serta Bapak Handoyo selaku Kabid Pengembangan Produk Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa-Timur. Pada kesempatan tersebut Bapak Ary Basuki menyoroti masalah pasca dibukanya jembatan Suramadu, sudah selayaknya Madura dapat lebih maju, tetapi pada kenyataanya kemajuan tersebut belumlah terlihat signifikan, oleh karena itu wajib terus didorong perkembangannya dan salah satunya dengan mengembangkan wisata “syariah”, akan tetapi terlebih dahulu harus dibuatkan PERDAnya, dan dalam penyusunannya wajib melibatkan MUI, Ulama dan tokoh agama setempat, akademisi, pelaku/asosisasi, dan stakeholder terkait lainnya. 

Terkait strategi peningkatan daya saing produk Pariwisata di Pulau Madura, ada 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu pemahaman wisata syariah itu sendiri, kedua adanya daya saing daya tarik wisata dengan pengembangan kualitas dan keragaman usaha, serta daya saing fasilitas pariwisata dengan pengembangan kapasitas dan kualitas fungsi dan layanan fasilitas periwisata berbasis standar usaha pariwisata syariahnya.  

Sementara Bapak Handoyo menyatakan dukungannya terhadap event-event pariwisata yang diselenggarakn untuk memperkenalkan budaya daerahnya, event tersebut secara efektif akan selalu di dukung oleh dinas propinsi jawa-timur, sebagai contohnya event kerapan sapi di Madura. Sedangkan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengharapkan BPWS ke depannya akan bisa menjadi success story atas keberadaannya, karena jika hal tersebut berhasil maka akan bisa dijadikan copy paste (contoh) bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Adapun dalam rapat koordinasi integrasi program pengembangan pariwisata tersebut di buka langsung oleh Kepala Bapel-BPWS Bapak Ir.Mohammad Irian, M.Eng.Sc, dan dihadiri pula baik dari unsur pemerintah pusat maupun daerah, diantaranya dari Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sampang, Pamekasan dan Sumenep, serta dari Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM). Acara dipandu oleh Ahmad Faidlal Rahman, SE.MSc selaku Kajur Pariwisata dan Perhotelan Universitas Brawijaya. (Gun)

 

Sampang – Setelah menyelenggarakan pelatihan pariwisata di 4 kabupaten di Madura secara bergantian selama 4 bulan, pada hari Jum’at kemarin (7/11/2014) BPWS kembali menfasilitasi pembentukan organisasi pariwisata Madura. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk kegiatan Diskusi dan Pembentukan Organisasi Pariwisata Madura tersebut menghadirkan 3 pembicara mumpuni yang sengaja dihadirkan untuk membuka wawasan peserta, yaitu: Drs. Djuwardi, MM, (Kadis Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sampang), Primatar Kuswiradyo, ST. MT, (Dosen Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya), Sukaryo, SH., M.Si (Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumenep).

Kegiatan yang berlangsung sehari ini cukup mengundang antusias peserta. Karena, kegiatan ini sangat ditunggu-tunggu oleh peserta pelatihan dan pelaku industri wisata. Karena selama ini mereka memang merindukan sebuah wadah yang dapat menghimpun dan menyatukan para pelaku wisata di Madura. 

Dalam laporannya, Abu Tholib selaku Ketua Pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari program pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata Madura yang dilaksanakan BPWS. “Sebelum dibentuk organisasi pariwisata, peserta telah diberikan pengetahuan tentang kepariwisataan dan dilatih oleh para pemateri untuk menjadi pelaku wisata” tutur pemuda Sumenep ini. Dikatakan juga bahwa panitia sengaja menyelenggarakan diskusi ini sebagai upaya membuka wawasan para peserta terkait pentingnya organisasi dalam mendorong perkembangan pariwisata di Madura.

Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Camplong ini, dibuka secara resmi oleh Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan dan Komunitas Masyarakat BPWS, Tadjus Subki. Dimana dalam sambutannya dikatakan bahwa kegiatan diskusi dan pembentukan organisasi pariwisata Madura ini menjadi momen yang sangat penting terutama bagi peserta yang sudah dilatih, termasuk juga menjadi wadah untuk mengawal kemajuan pariwisata. BPWS hanya bertindak sebagai fasilitator untuk mendorong terciptanya SDM yang berkualitas. “Kami berharap setelah dibentuk organisasi pariwisata Madura ini, para pelaku industri pariwisata di Madura semakin menyatu dan aktif dalam mewujudkan Madura sebagai destinasi pariwisata dan berupaya mendatangkan wisatawan datang ke Madura lebih banyak lagi” sambutnya dengan penuh harapan. 

Di akhir kegiatan, dibentuklah organisasi pariwisata yang diberi nama Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM). Yang kemudian terpilih dengan suara terbanyak saudara Moh.Mukti sebagai ketua selama kepengurusan 3 tahun ke depan. “Saya mengucapkan terima kasih, karena teman-teman telah memberikan kepercayaan kepada saya dalam menahkodai organisasi ini” ujar pemilik Mandala tours & travel ini. Kemudian lebih lanjut, dia mengajak para anggotanya untuk bekerja keras dan mendukung program-program yang akan dilaksanakan 3 tahun ke depan sehingga organisasi ini bermanfaat bagi pariwisata Madura. (abu)