Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean
rdev

rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website URL: http://www.bpws.go.id Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Pelatihan Ekonomi Kreatif Berbasis Kompetensi Teknik Pengemasan Modern, Teknologi Tepat Guna dan Akses Pasar bagi IKM Madura oleh Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), terus dilakukan. Awal tahun 2020, BPWS kembali menggandeng Inopak Institute untuk trus meningkatkan kreatifitas dan teknologi. Khususnya bagi produk IKM. Seperti yang dilakukan bagi IKM Kabupaten Sampang. Kegiatan bertajuk Pelatihan Ekonomi Kreatif Berbasis Kompetensi Kejuruan Teknologi Pengemasan Modern dan Tepat Guna Bagi Pengusaha Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Sampang mendapat animo cukup besar. Itu terlihat saat agenda kunjungan yang dilakukan oleh BPWS dan Inopak pada produk hasil budidaya tanaman milik salah satu peserta, Ana Hastuti. Budiaya hidpronik daun mint kering sudah dilakukan Ana sejak lama. ’’Budidaya saya lakukan secara bertingkat,’’ katanya kepada pelatih dari Inopak saat berkunjung kelokasi. Ana menyatakan, budidaya tanaman hidropnik daun mint secara bertingkat ini cukup membuahkan hasil maksimal. Sebab, produk hasil budaya ini bisa digunakan sebagai minuman herbal kesehatan. Daun mint memiliki khasiat cukup bagus untuk menghangatkan tubuh, dan melegakan pernafasan. Pembudidaya daun mint kering ini mengaku puas dengan program pelatihan yang digelar oleh BPWS.’’Saya jadi mengetahui bagaimana teknik pengemasan yang bagus agar produk budidaya saya memiliki nilai jual cukup tinggi di pasaran,’’ pungkas Ana. (edw)

Keseriusan BPWS untuk membantu perekonomian Madura dari sektor IKM tidak main main. BPWS bahkan menggandeng Aprindo (Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia) DPD Jatim, Bali, dan NTT, memastikan produk produk IKM Madura, akan didistribusikan ke 4000 lebih gerai pasar modern di bawah naungan Aprindo. “Ini bukan main main. Madura bisa benar benar menjadi kekuatan ekonomi sektor IKM, khususnya produk makanan. Ini peluang luar biasa,”ujar Kepala Hubungan Kelembagaan dan Komuntas Masyarakat (HKKM) BPWS, Djoni Iskandar. Ketua Aprindo DPD Jatim, Bali dan NTT, April Wahyuwidya mengatakan, pihaknya menyambut baik peningkatan kualitas produk IKM Madura yang dilatih BPWS dan INOPAK. Menurutnya, di era modern, mutu produk, tampilan disain dan jaringan pemasaran, adalah vital. “Jika ingin bersaing di level yang lebih tingga dan menguntungkan, mutlak, produk yang dihasilkan, harus memenuhi standar mutu, kualitas yang bersaing dan citarasa yang enak,”tandasnya. Untuk itu, jika memenuhi kualifikasi tersebut, pihaknya memastikan siap mendistribusikan ke jaringan retail yang menjadi anggotanya.“Untuk mendorong peningkatan perekonomian alam negeri. Memang, produk harus berkualitas,berdaya saing, apalagi saat ini banyak produk dari luar. Jika produk dalam negeri tidak bisa bersaing, ya sebuah kerugian bagi bansga ini,”tandasnya. Bagaimana dengan hasil pelatihan BPWS? April mengatakan, dari banyak produk yang sudah diamatinya, hasil pelatihan mayoritas sudah jauh meningkat kualitas produknya. “Saya pikir, sangat bagus. Perlu dilakukan pembinaan secara berkesinambungan,”tegasnya. Salah satu nilai lebih dari pelatihan yang dilakukan BPWS memang adalah para peserta akan dikenalkan dengan pasar modern dan pasar internasional. Dari seluruh peserta, yang paska dilatih memiliki kualifikasi yang layak, akan didorong dan dibantu secara maksimal agar produknya bisa masuk pasar internasional. “Yang sudah kita lakukan di sejumlah daerah, banyak yang kita latih, produknya sudah tembus ke Eropa, Asia dan Timur Tengah. Ini kita fasilitasi,” tegas Newin Hasan expert dari INOPAK Institute. Kepada peserta pelatihan, Newin mengatakan, Pemkab di Madura BPWS, INOPAK dan GIZ memberikan ilmu, peluang dan bantuan lainnya untuk menumbuhkembangkan IKM di Madura demi kemajuan Indonesia. Untuk itu, pihaknya meminta agar seluruh peserta benar-benar serius mengikuti tahapan pelatihan. (Coy)

Beda lagi dengan Capung, adalah Faisal owner Oemah Roejak, yakni produk sambal rujak buah yang mampu menembus pasar Hongkong dan Malaysia dengan pengiriman rata rata 1000 pieces per bulan. Bersama Faisal, ada pemilik Abon Jennie, Winwin Tresnawulan, Bangkalan, produknya tak kalah mentereng karena berhasil menembus pasar Belanda. “Ya selain pasar lokal, kami juga menyasar pasar internasional. Alhamdulillah, sudah mampu tembus pasar Belanda,” ujarnya. Menanggapi keberhasilan peserta pelatihan tersebut, Plt. Sekretaris BPWS, Sidik Wiyoto menegaskan, Madura yang memiliki potensi besar dalam berbagai, baik bidang perikanan dan hasil bumi, sangat potensial untuk dikembangkan perekonomian kerakyatannya di sektor IKM. “Kami akan membantu dalam pelatihan untuk meningkatkan nilai produk, membangun mindset agar IKM di Madura dapat berkembang dan menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan,” tandasnya. Sementara, Tenaga Ahli Utama Packaging INOPAK Institute, Newin Hasan Herman mengatakan, para peserta akan dilatih membuat kemasan yang memberi nilai jual di pasar modern, manajemen, akses non perbankan dan pemasaran hingga segmen pasar internasional. “Mindset nya akan kami reset ulang agar para pelaku UMKM bisa menyesuaikan dengan segmen pasar modern. Bisa menyulap produksinya menjadi produk yang memiliki daya saing besar. Dengan demikian, keuntungan akan meningkat, pasar akan terbuka luas dan sudah barang tentu mendorong dinamika perekonomian daerah,”ujar pakar Aerotika Pesawat yang sudah 15 tahun tinggal di jerman ini. (Coy)

Setidaknya, 480 IKM (Industri Kecil Menengah) di seluruh Madura, masing masing kabupaten 120 IKM, telah dipoles BPWS bersama dengan Pemerintah Kabupaten se Kabupaten Madura, dengan digawangi para ahli dari INOPAK Institute beserta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) German. Hasilnya? Mayoritas produk yang sebelumnya biasa biasa saja, menjadi produk berkualtias luxury dan masuk pasar modern, seperti Alfamart, Alfamidi, Indomart, Hypermart dan retail modern lainnya. Bahkan, beberapa malah masuk pasar ekspor. Bagaimana bisa ? Bertahun tahun, Andi Sauman, owner produk KERIPIK IKAN CAPUNG merk HA-ROSA Pamekasan, mengalami stagnasi penjualan yang tidak berkembang. “Hanya segitu aja gak naik naik,” ujarnya. Hingga kemudian, ia mengikuti pelatihan di BPWS. Para ahli jebolan Jerman memoles teknik kemasan, disain, teknik pemasaran, jaringan pemasaran, hingga manajemen, izin, standarisasi internasional. “Dan luar biasanya, dari yang semula kemasan lusuh, kumuh dan disain alakadarnya, sehingga hanya laku murah dan terbatas. Sekarang membanggakan. Karena masuk ke pasar Modern. Di Alfamart dan sejenisnya sudah tersedia. Alhamdulillah,” tandasnnya. Dia hanyalah satu dari ratusan produk IKM yang sudah berubah 180 derajat setelah dipoles BPWS. Ratusan produk lain juga semakin berkibar menjelajah pasar Indonesia dengan mutu dan kualitas yang beradi diadu di level nasional. (coy)

Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS) berkoordinasi dengan Komisi Informasi (KI) Pusat terkait hasil Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2019. Tim BPWS  dipimpin oleh Ketua PPID Pandit Indrawan bersama Tim Sekretariat PPID BPWS diterima langsung oleh Ketua Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi (PSI) KI Pusat Arif Adi Kuswardono bersama Tenaga Ahli dan Asisten Tenaga Ahli KI Pusat di ruang rapat lantai 9 Kantor Sekretariat KI Pusat Wisma BSG Jakarta, Jumat (07/02/2020).

Pada kesempatan tersebut, Ketua Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi (PSI) KI Pusat Arif Adi Kuswardono menyampaikan apresiatif terhadap BPWS yang diawal-awal tahun sudah bergerak cepat untuk berkoordinasi dalam rangka meningkatkan pelayan keterbukaan informasi publik di tahun 2020. Dalam kesempatan yang sama Tenaga Ahli dan Asisten Ahli KI Pusat  menjelaskan hasil monitoring dan Evaluasi PPID BPWS sesuai dengan hasil yang sudah diterima dan perlu ditingkatkan indikator penilaian yang belum terpenuhi.

Sementara itu Ketua PPID Memahami terkait Hasil Monev KIP 2019, guna meningkatkan pelayanan informasi di Tahun 2020 maka PPID BPWS harus berbenah, belajar dan berinovasi dengan mengacu pada catatan hasil monev  KIP 2019 perlu ditingkatkan/dipenuhi, Semoga kedepan BPWS menjadi Badan Publik yang Informatif “tuturnya.(Nis)

 

Produk Industri Kecil Menengah (IKM) Madura yang dilatih BPWS dan Inopak Institute bekerjasama GIZ Jerman dan Pemerintah Daerah se Kabupaten Madura, sukses masuk ke pasar retail modern. Ini terungkap dalam Pelatihan Teknik Pengemasan Modern di Pamekasan, Selasa (21/1) yang digelar BPWS, Inopak Institute dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Pamekasan, Abdiyati Muradi dalam kegiatan itu mengatakan, khusus untuk Pamekasan, saat ini sudah 12 produk IKM yang dilatih BPWS dan Pemkab Pamekasan, sudah masuk ke pasar retail modern. “Seperti Alfamart, Indomart dan pasar modern lainnya. Produk lainnya akan segera menyusul. Ini perkembangan positif setelah dilatih BPWS. Dan jelas telah menyumbang pertumbuhan ekonomi kawasan,” ujarnya. Diantara yang sudah masuk antara lain, teri, rengginan, otok dan lain sebagainya. 

Sementara, Kasubdiv Pemberdayaan Masyarakat BPWS, Edi Slamet menambahkan, BPWS berharap, para peserta pelatihan memiliki kepercayaan diri, kualifikasi dan kualitas untuk masuk ke toko retail modern. Ini tujuannya agar, menjadi IKM sesungguhnya. “Apa itu? Industri Kecil Miliaran. Ini bukan mustahil, hanya tinggal beberapa langkah lagi. BPWS akan terus akan dorong,” tandas bapak tiga putri yang dikenal concern di bidang industri kecil ini. Di kesempatan yang sama, Sekretaris BPWS, Sidik Wiyoto menegaskan, BPWS telah membangun jaringan nasional dan interanasional untuk memberikan ruang kepada IKM Madura berkiprah di pasar retail lebih besar.  berkali kali membangun komitmen dengan “Kita (BPWS) sudah membangun komitmen dengan Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia  yang memiliki jaringan toko retail modern sejumlah lebih dari 4000 gerai. Ini Kesempatan emas,” tadas mantan Kepala BPKP ini. Ditambahkan, BPWS berkomitmen terus mendorong peningkatan kualitas SDM Madura untuk semakin berkiprah di kancah internasional. “Kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh stakeholder di Madura untuk membangun kualitas dan potensi Madura. Ini benar benar potensi besar yang harus didorong bersama sama,” tegasnya.

Terpisah, Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, mengakui bahwa pelatihan BPWS tersebut memberi dampak positif yang terasa. Bahkan, dikatakan selaras dengan program kerja jajarannya di pamekasan.  “Kami memiliki program untuk menciptakan 10.000 pengusaha start up. Sinergi dengan BPWS dalam pelatihan ini, jelas sangat dibutuhkan,” tandasnya. Sekadar informasi, peserta latih dari kegiatan ini adalah para pengusaha industri kecil menengah yang sudah memiliki produk namun penjualannya masih konvensional dan kurang maksimal. Mereka dilatih manajemen, teknik kemasan, membuka jaringan nasional dan internasional, memfasilitasi ke pasar retail modern dan bimbingan konseling. (coy)