Indonesian Chinese (Simplified) English Japanese Korean
rdev

rdev

Web administrator di Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura

Website URL: http://www.bpws.go.id Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

BANGKALAN – Badan Pelaksana Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BP-BPWS), tetap berkomitmen dalam pengembangan wilayah Madura. Termasuk melanjutkan pembangunan di masa pandemi covid-19 saat ini.

Kelanjutan program BPWS ini dilakukan bersama dengan Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Selasa (30/6/2020). Pertemuan tersebut sekaligus memperkenalkan pelaksana tugas (Plt) Kepala BP-BPWS (Kabapel) yang baru, Ir Achmad Herry Marzuki, CES.

Jajaran pimpinan BPWS disambut hangat oleh Bupati Bangkalan, RKH Abdul Latif Amin Imron Ra Latif, didampingi Sekda Bangkalan, Taufan Zairinsjah di Pendopo Kabupaten Bangkalan.

Turut mendampingi Kabapel BPWS, Dr. Ir Agus Wahyudi , SE, MM (Deputi Perencanaan BPWS), dan Ir Hadi Roseno, M.Sc (Deputi Pengendalian BPWS) bersama jajaran Kepala Divisi dan Kepala Sub Divisi BPWS.

Sebagai Kabapel BPWS yang baru, Herry menyampaikan tugas dan fungsi BPWS kepada Pemkab Bangkalan. 

Namun, lantaran dalam situasi pandemi Covid-19 program program pembangunan tersebut sempat terhenti. Diantaranya, penandatanganan MoU, Pembebasan Lahan, Pembangunan Pelabuhan, Pembangunan Jalan, dan Pengelolaan SPAM di Bangkalan.’’Termasuk pelatihan SDM Santri yang ada di Pondok Pesantren,’’ kata Herry.

Pertemuan tersebut mendapat respon positif. Bak gayung bersambut Pemkab Bangkalan tengah berupaya melanjutkan program pembangunan yang sempat tertunda. Menurut RKH Abdul Latif Amin Imron, kehadiran BPWS sudah banyak membantu dalam pengembangan dan peningkatan perekonomian yang ada di wilayahnya. Adanya pembangunan infrastruktur hingga dilaksanakannya pelatihan sumberdaya manusia bagi warga Bangkalan, setidaknya menjadi perhatian terhadap kinerja BPWS sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam memajukan kawasan di Pulau Garam.(edw)

Sekretaris Badan Pelaksana BPWS Sidik Wiyoto memimpin tim PPID dalam menyampaikan Laporan layanan informasi Publik  BPWS kepada KI Pusat dan diterima oleh Tenaga Ahli Komisi informasi Pusat, Kamis (27/02) di kantor Komisi Informasi Pusat. Sebagai badan publik BPWS mempunyai kewajiban dalam membuat laporan layanan informasi publik dan Salinan laporan disampaikan ke komisi informasi pusat, sesuai dengan amanat Undang Undang no.14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik dan Peraturan Komisi informasi no.1 Tahun 2010 tentang standar layanan informasi publik, 

Pada kesempatan tersebut, Tenaga Ahli KI Pusat Agus menyampaikan apresiatif terhadap BPWS yang telah menyampaikan laporan layanan informasi publik diawal tahun sesuai dengan Perki 01 Tahun 2010. Tenaga Ahli KI Pusat  juga menjelaskan hasil monitoring dan Evaluasi PPID BPWS, untuk menuju yang lebih baik (Informatif) PPID BPWS  perlu meningkatkan indikator penilaian yang belum dipenuhi sesuai dengan hasil monev KIP tahun 2019. Agus juga menyampaikan terimakasih kepada sekretris BPWS sebagai atasan PPID yang telah berkomitmen tinggi dalam mewujudkan pelayanan informasi publik yang baik dan informatif.

Sementara itu Ketua PPID BPWS Pandit Indarawan menanggapi Hasil Monev KIP 2019 dengan penuh optimis yang tinggi, Pandit menyampaikan PPID BPWS harus belajar, berinovasi dan berkolaborasi untuk menjadi Badan Publik yang Informatif dengan mengacu pada catatan hasil monev  KIP 2019 ‘’tuturnya. (abu)

 

Pelatihan Ekonomi Kreatif Berbasis Kompetensi Teknik Pengemasan Modern, Teknologi Tepat Guna dan Akses Pasar bagi IKM Madura oleh Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), terus dilakukan. Awal tahun 2020, BPWS kembali menggandeng Inopak Institute untuk trus meningkatkan kreatifitas dan teknologi. Khususnya bagi produk IKM. Seperti yang dilakukan bagi IKM Kabupaten Sampang. Kegiatan bertajuk Pelatihan Ekonomi Kreatif Berbasis Kompetensi Kejuruan Teknologi Pengemasan Modern dan Tepat Guna Bagi Pengusaha Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Sampang mendapat animo cukup besar. Itu terlihat saat agenda kunjungan yang dilakukan oleh BPWS dan Inopak pada produk hasil budidaya tanaman milik salah satu peserta, Ana Hastuti. Budiaya hidpronik daun mint kering sudah dilakukan Ana sejak lama. ’’Budidaya saya lakukan secara bertingkat,’’ katanya kepada pelatih dari Inopak saat berkunjung kelokasi. Ana menyatakan, budidaya tanaman hidropnik daun mint secara bertingkat ini cukup membuahkan hasil maksimal. Sebab, produk hasil budaya ini bisa digunakan sebagai minuman herbal kesehatan. Daun mint memiliki khasiat cukup bagus untuk menghangatkan tubuh, dan melegakan pernafasan. Pembudidaya daun mint kering ini mengaku puas dengan program pelatihan yang digelar oleh BPWS.’’Saya jadi mengetahui bagaimana teknik pengemasan yang bagus agar produk budidaya saya memiliki nilai jual cukup tinggi di pasaran,’’ pungkas Ana. (edw)

Keseriusan BPWS untuk membantu perekonomian Madura dari sektor IKM tidak main main. BPWS bahkan menggandeng Aprindo (Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia) DPD Jatim, Bali, dan NTT, memastikan produk produk IKM Madura, akan didistribusikan ke 4000 lebih gerai pasar modern di bawah naungan Aprindo. “Ini bukan main main. Madura bisa benar benar menjadi kekuatan ekonomi sektor IKM, khususnya produk makanan. Ini peluang luar biasa,”ujar Kepala Hubungan Kelembagaan dan Komuntas Masyarakat (HKKM) BPWS, Djoni Iskandar. Ketua Aprindo DPD Jatim, Bali dan NTT, April Wahyuwidya mengatakan, pihaknya menyambut baik peningkatan kualitas produk IKM Madura yang dilatih BPWS dan INOPAK. Menurutnya, di era modern, mutu produk, tampilan disain dan jaringan pemasaran, adalah vital. “Jika ingin bersaing di level yang lebih tingga dan menguntungkan, mutlak, produk yang dihasilkan, harus memenuhi standar mutu, kualitas yang bersaing dan citarasa yang enak,”tandasnya. Untuk itu, jika memenuhi kualifikasi tersebut, pihaknya memastikan siap mendistribusikan ke jaringan retail yang menjadi anggotanya.“Untuk mendorong peningkatan perekonomian alam negeri. Memang, produk harus berkualitas,berdaya saing, apalagi saat ini banyak produk dari luar. Jika produk dalam negeri tidak bisa bersaing, ya sebuah kerugian bagi bansga ini,”tandasnya. Bagaimana dengan hasil pelatihan BPWS? April mengatakan, dari banyak produk yang sudah diamatinya, hasil pelatihan mayoritas sudah jauh meningkat kualitas produknya. “Saya pikir, sangat bagus. Perlu dilakukan pembinaan secara berkesinambungan,”tegasnya. Salah satu nilai lebih dari pelatihan yang dilakukan BPWS memang adalah para peserta akan dikenalkan dengan pasar modern dan pasar internasional. Dari seluruh peserta, yang paska dilatih memiliki kualifikasi yang layak, akan didorong dan dibantu secara maksimal agar produknya bisa masuk pasar internasional. “Yang sudah kita lakukan di sejumlah daerah, banyak yang kita latih, produknya sudah tembus ke Eropa, Asia dan Timur Tengah. Ini kita fasilitasi,” tegas Newin Hasan expert dari INOPAK Institute. Kepada peserta pelatihan, Newin mengatakan, Pemkab di Madura BPWS, INOPAK dan GIZ memberikan ilmu, peluang dan bantuan lainnya untuk menumbuhkembangkan IKM di Madura demi kemajuan Indonesia. Untuk itu, pihaknya meminta agar seluruh peserta benar-benar serius mengikuti tahapan pelatihan. (Coy)

Beda lagi dengan Capung, adalah Faisal owner Oemah Roejak, yakni produk sambal rujak buah yang mampu menembus pasar Hongkong dan Malaysia dengan pengiriman rata rata 1000 pieces per bulan. Bersama Faisal, ada pemilik Abon Jennie, Winwin Tresnawulan, Bangkalan, produknya tak kalah mentereng karena berhasil menembus pasar Belanda. “Ya selain pasar lokal, kami juga menyasar pasar internasional. Alhamdulillah, sudah mampu tembus pasar Belanda,” ujarnya. Menanggapi keberhasilan peserta pelatihan tersebut, Plt. Sekretaris BPWS, Sidik Wiyoto menegaskan, Madura yang memiliki potensi besar dalam berbagai, baik bidang perikanan dan hasil bumi, sangat potensial untuk dikembangkan perekonomian kerakyatannya di sektor IKM. “Kami akan membantu dalam pelatihan untuk meningkatkan nilai produk, membangun mindset agar IKM di Madura dapat berkembang dan menggerakkan sektor ekonomi kerakyatan,” tandasnya. Sementara, Tenaga Ahli Utama Packaging INOPAK Institute, Newin Hasan Herman mengatakan, para peserta akan dilatih membuat kemasan yang memberi nilai jual di pasar modern, manajemen, akses non perbankan dan pemasaran hingga segmen pasar internasional. “Mindset nya akan kami reset ulang agar para pelaku UMKM bisa menyesuaikan dengan segmen pasar modern. Bisa menyulap produksinya menjadi produk yang memiliki daya saing besar. Dengan demikian, keuntungan akan meningkat, pasar akan terbuka luas dan sudah barang tentu mendorong dinamika perekonomian daerah,”ujar pakar Aerotika Pesawat yang sudah 15 tahun tinggal di jerman ini. (Coy)

Setidaknya, 480 IKM (Industri Kecil Menengah) di seluruh Madura, masing masing kabupaten 120 IKM, telah dipoles BPWS bersama dengan Pemerintah Kabupaten se Kabupaten Madura, dengan digawangi para ahli dari INOPAK Institute beserta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) German. Hasilnya? Mayoritas produk yang sebelumnya biasa biasa saja, menjadi produk berkualtias luxury dan masuk pasar modern, seperti Alfamart, Alfamidi, Indomart, Hypermart dan retail modern lainnya. Bahkan, beberapa malah masuk pasar ekspor. Bagaimana bisa ? Bertahun tahun, Andi Sauman, owner produk KERIPIK IKAN CAPUNG merk HA-ROSA Pamekasan, mengalami stagnasi penjualan yang tidak berkembang. “Hanya segitu aja gak naik naik,” ujarnya. Hingga kemudian, ia mengikuti pelatihan di BPWS. Para ahli jebolan Jerman memoles teknik kemasan, disain, teknik pemasaran, jaringan pemasaran, hingga manajemen, izin, standarisasi internasional. “Dan luar biasanya, dari yang semula kemasan lusuh, kumuh dan disain alakadarnya, sehingga hanya laku murah dan terbatas. Sekarang membanggakan. Karena masuk ke pasar Modern. Di Alfamart dan sejenisnya sudah tersedia. Alhamdulillah,” tandasnnya. Dia hanyalah satu dari ratusan produk IKM yang sudah berubah 180 derajat setelah dipoles BPWS. Ratusan produk lain juga semakin berkibar menjelajah pasar Indonesia dengan mutu dan kualitas yang beradi diadu di level nasional. (coy)